75 Tahun Kemerdekaan Indonesia ; NU Marwah Nusantara

 9 total views

Penulis : Ahmad Andi Wibowo : (Koordinator Rantingisasi NU Kota Tangsel)

Kota Tangerang Selatan – Nahdlatul Ulama sejak berdiri pada tahun 1926 telah menorehkan sejarah panjang sebuah pergerakan dan semangat membangun bangsa Indonesia. Terbukti dengan adanya peran seluruh kiai di Nusantara ini berjibaku melawan penjajahan dan membebaskan belenggu faham yang bertolak belakang dengan aqidah islam ahlussunnah wal jama’ah serta cenderung melakukan perlawanan kepada pemerintahan penjajahan saat itu.

Sejarah panjang yang dimaksud adalah bagaimana Nahdlatul Ulama menjadi salah satu corong pemerintah baik skala domestik maupun luar negeri yang selalu mengkampanyekan dan menyuarakan islam rahmatan lil alamin dalam sendi sendi kehidupan berbangsa dan bertanah air. Hal ini yang kemudian membuat seluruh khalayak masyarakat arus bawah menerima kehadiran organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia bahkan di dunia tersebut.

KH. Wahab Chasbullah beserta para kiai lainnya menggawangi berdirinya Tashwirul Afkar atau Nahdlatul Fikr (Kebangkitan Pemikiran) 1914, Nahdlatul Wathon (Kebangkitan Tanah Air) 1916 dan Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan Saudagar) 1918 (Choirul Anam, 2010:75). Artinya adalah, lahirnya Nahdlatul Ulama mengalami fase dan lika liku sejarah yang luar biasa mulai dari urusan problem keagamaan, peneguhan madzhab serta alasan-alasan kebangsaan dan sosial kemasyarakatan.

Peranan Nahdlatul Ulama juga tidak bisa dipisahkan dari sejarah panjang lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Adalah KH. Hasyim Asyari yang saat itu menjadi Roisul Akbar Nahdlatul Ulama pada tahun 1945 mengeluarkan fatwa jihad yang kemudian dikenal dengan resolusi jihad dan terjadilah perlawanan besar-besaran antara rakyat dengan penjajah di Surabaya. Hingga Kiai Hasyim ingin ditangkap oleh penjajah Belanda namun beliau tetap tidak bergeming sedikitpun dan terus mendampingi laskar hizbullah dan sabilillah yang dibentuknya.

Fatwa atau resolusi jihad KH. Hasyim Asyari berisi lima butir. Pertama, kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus wajib dipertahankan. Kedua, Republik Indonesia sebagai satu-satunya pemerintahan yang sah harus dijaga dan ditolong. Ketiga, musuh Republik Indonesia yaitu Belanda yang kembali ke Indonesia dengan bantuan sekutu Inggris pasti akan menggunakan cara-cara politik dan militer untuk menjajah kembali Indonesia. Keempat, umat Islam terutama anggota NU harus mengangkat senjata melawan penjajah Belanda dan sekutunya yang ingin menjajah Indonesia kembali. Kelima, kewajiban ini merupakan perang suci (jihad) dan merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang tinggal dalam radius 94 kilometer, sedangkan mereka yang tinggal di luar radius tersebut harus membantu dalam bentuk material terhadap mereka yang berjuang. (Lathiful Khuluq, 2000).

Semangat dakwah antikolonialisme sudah melekat pada diri KH. Hasyim Asyari sejak belajar di Makkah, ketika jatuhnya dinasti Ottoman di Turki. Menurut Muhammad Asad Syihab (1994), Hasyim pernah mengumpulkan kawan-kawannya, lalu berdoa di depan Multazam, berjanji menegakkan panji-panji ke-Islaman dan melawan berbagai bentuk penjajahan.

Menurut Ishom Hadzik (2000) dalam buku yang ditulis Zuhairi Misrawi berjudul “Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari: moderasi, keumatan, dan kebangsaan”, pada masa penjajahan Belanda, Hasyim senantiasa berkomunikasi dengan tokoh-tokoh muslim dari berbagai penjuru dunia untuk melawan penjajahan. Misalnya dengan Pangeran Abdul Karim al-Khatthabi (Maroko), Sultan Pasha Al-Athrasi (Suriah), Muhammad Amin al-Husaini (Palestina), Dhiyauddin al-Syairazi, Muhammad Ali, dan Syaukat Ali (India), serta Muhammad Ali Jinnah (Pakistan). Ini membuktikan bahwa kiai Hasyim betul-betul mengorbankan seluruh jiwa raganya untuk membantu mendirikan bangsa Indonesia dengan kekuatan lahir dan bathin yang selalu dipadu padankan dengan konsep dan teori langit (red-Perintah Allah).

KH. Hasyim Asyari dan KH. Wahab Chasbullah menjadi salah satu tokoh kunci kemerdekaan bangsa Indonesia dan pengalaman sejarah serta ilmu agamanya banyak dianut serta dijadikan referensi dalam menguatkan harakah jam’iyyah (Gerakan komunitas) di Nahdlatul Ulama dan masyarakat umum di Indonesia hingga saat ini.

Harakah Annahdliyah

Berangkat dari pengalaman sejarah yang disajikan oleh para pendahulu dan founding fathers Nahdlatul Ulama, maka setidaknya generasi saat ini harus tetap menjaga marwah perjuangan yang sudah dilakukan 75 tahun yang lalu. Dalam konteks kekinian misalnya, perjuangan Nahdlatul Ulama jelas terpatri dalam memaksimalkan semua potensi nahdliyyin yang berada didalam kepengurusan mulai dari tingkat desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi hingga pengurus besar. Konsistensi dan komitmen yang kemudian menjadi landasan bergerak adalah bagian dari kronologi yang tidak bisa dipisahkan sehingga mampu menjadi kekuatan dan energi positif mempertahankan Kemerdekaan Indonesia. Dalam konteks yang lebih detail, bahwa perjuangan Nahdlatul Ulama berada di musholla, masjid, madrasah, pondok pesantren dan majlis ta’lim di sudut sudut perkampungan atau pinggiran bahkan perkotaan. Hal ini yang menjadikan ghiroh annahdliyah semakin melilit dan kokoh dalam setiap harakah yang dijalankannya.

Sebagai organisasi kemasyarakatan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari keseluruhan bangsa Indonesia. Nahdlatul Ulama senantiasa mempersatukan diri dengan perjuangan nasional bangsa Indonesia. Secara sadar mengambil posisi aktif dalam proses perjuangan mencapai dan mempertahankan kemerdekaan serta ikut aktif dalam penyusunan UUD 1945 dan perumusan Pancasila sebagai dasar negara. Karenanya, setiap warga Nahdlatul Ulama harus menjadi warga negara yang senantiasa menjunjung tinggi Pancasila dan UUD 1945.

Memaksimalkan komunikasi ala Islam ahlussunnah wal jama’ah annahdliyah tentu bagian dari harakah yang selalu dijaga oleh warganya. Menempatkan dan memposisikan secara teguh dan kuat prinsip persaudaraan (al-ukhuwwah), toleransi (tasamuh) serta hidup berdampingan baik dengan sesama umat Islam maupun dengan sesama warga negara yang memiliki keyakinan atau agama lain untuk mewujudkan cita-cita persatuan dan kesatuan bangsa yang kokoh dan dinamis sehingga akan timbul bentuk dari apa yang disebut mabadi’khairo ummah (umat terbaik). Pada sisi lain misalnya, Nahdlatul Ulama sebagai fungsi pendidikan dan jam’iyyah, harakah Nahdlatul Ulama pada level ini secara sadar berusaha menciptakan warga negara yang menyadari akan hak dan kewajibannya terhadap bangsa dan negara, Hubbul wathon minal iman (cinta tanah air adalah sebagian dari iman).

Dari sedikit ulasan diatas perlu kiranya, generasi saat ini menjaga harakah annahdliyah tersebut dengan penuh keikhlasan dan khidmat pengabdian yang kongkrit serta mengambil hal baru yang lebih komprehensif dan sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat Indonesia. Al-mukhafadzatu alal qadimissholih wal akhdzu bil jadidil ashlah (mempertahankan tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik).

Pemuda dan Kemerdekaan

Beberapa hari lagi detik-detik proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia akan berkumandang di seantero jagad bumi pertiwi. Dalam surat resmi Menteri Sekretaris Negara tertanggal 06 Juli 2020, seluruh masyarakat Indonesia diberikan kewajiban berdiri tegak pada saat lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang 17 Agustus 2020. Memberhentikan sejenak aktivitas yang dilakukan hanya untuk menghormati bendera pusaka berada di tiang tertinggi dan merenungkan betapa beratnya Republik ini direbut dari tangan penjajah. Hal ini adalah bagian dari semangat cinta tanah air (hubbul wathon) yang tidak akan pernah berhenti sampai kapanpun dan terus mengingatkan kepada kaum muda bahwa pemuda adalah generasi penerus bangsa yang harus produktif dan kreatif dalam memperjuangkan memperbaiki tata kelola dan cara pandang berbangsa dan bernegara. Ungkapan Syubbanul Yaum Rijalul Mustaqbal (pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan) memiliki ruang dan makna yang luas untuk diimplementasikan dalam denyut nadi para pemuda Indonesia.

Yang menarik dalam merespon ungkapan diatas adalah terkait bonus demografi Indonesia yang puncaknya akan terjadi pada tahun 2030 atau tepatnya pada tahun ke 85 kemerdekaan Republik Indonesia yang kemudian disebut sebagai window of opportunity (jendela peluang). Dari sini dapat kita simpulkan bahwa kaum muda sudah harus mempersiapkan dan menata diri dari segala respon yang ada saat ini, mulai dari pembenahan pendidikan formal dan memperhatikan usia produktif hingga penataan kondisi usia kerja hingga pasca kerja (lanjut usia) sebagai bentuk persiapan dan menyongsong satu abad kemerdekaan Indonesia.

Kalau kita menengok ke belakang, tahun 2019 di dalam sidang tahunan MPR/DPR/DPD RI, Presiden Republik Indonesia Jokowi dalam pidato kenegaraanya berpendapat bahwa optimisme mencapai target bonus demografi bagian dari tanggungjawab kita bersama rakyat Indonesia dan pemerintah sebagai regulasi atas adanya konsep bonus demografi tersebut. Oleh karena itu, penekanan pemerintah terhadap pembangunan SDM menjadi target utama yakni pada bidang pendidikan dan sektor kesehatan.

Dalam konteks bonus demografi Indonesia, Nahdlatul Ulama telah mempersiapkan diri sejak adanya wacana tersebut. Penataan Badan Otonom NU berbasis usia (IPNU, IPPNU, Fatayat, Muslimat) terus dilakukan monitoring dan evaluasi baik secara struktural maupun cara kerja organisasi. Hal ini semata-mata dilakukan hanya untuk tetap menjaga marwah kemerdekaan Indonesia yang terus digelorakan oleh para kiai dan para pendiri Nahdlatul Ulama.

Walhasil, hari ini Nahdlatul Ulama tetap memegang teguh bahwa NKRI adalah harga yang final dan tidak akan pernah berubah atau dirubah oleh siapapun ila akhiri zaman. Selamat merayakan kemerdekaan Indonesia yang ke 75, meminjam istilah muktamar Nahdlatul Ulama yang ke 34; NU Mandiri, Indonesia Bermartabat.

Wallahu A’lam Bisshowab. (Red)