Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo

madani-news.com – Seberapa dekat saya dengan Anies Baswedan? Seberapa kenal saya dengan Ganjar Pranowo? Lumayan. Setidaknya, jika kebetulan berpapasan dalam suasana tanpa lampu sorot atau jejalan wartawan saya kira kami akan saling menghampiri, berpelukan hangat, lalu berbincang-bincang sambil menyesap secangkir teh atau kopi hangat.

Awal tahun 90an saya mahasiswa baru yang diplonco oleh para senior dimana Mas Ganjar salah satu yang paling berkesan. Langsing, tinggi menjulang, pakai celana jins ketat dengan kaus oblong warna hitam, dengan senyum ramah yang bikin mahasiswi baru rela disuruh push up berkali-kali. Kata-katanya sederhana, ada semacam gelak bersahabat dalam suaranya.

Anies beda lagi. Dia bintang. Tak perlu berdebat tentang pesona dan kepandaiannya. Saat orasi penyambutan Maba, Anies membuat saya merasa sangat beruntung jadi pemuda Indonesia. Yang paling mengesankan buat saya terutama bukan kecerdasan dan rentang jaring politik dalam kancah gerakan mahasiswa itu melainkan kesantunannya. Ia orang baik dan hanya berada di dekatnya dia bisa membuat siapa saja dengan latar belakang apa saja akan merasa berpeluang untuk jadi baik.

Selebihnya adalah tahun-tahun paling menyenangkan. “Terjebak” dalam organisasi intra dan ekstra kampus, saya lebih sering berinteraksi dengan Anies Baswedan. Yang paling memorable ketika kami bersama dua teman lain satu hari berangkat ke Bandung untuk pertemuan mahasiswa antar kampus, tengah malam di atas kereta ekonomi yang penuh sesak kami terpaksa gelar koran seadanya di selasar dekat sambungan gerbong kereta. Ia menggeletak tidur dengan wajah persis di samping pintu toilet yang aromanya naudzubillah. Beberapa kali saya miris ketika kaki orang yang keluar masuk toilet melangkahi di atas kepalanya. Waktu itu, dalam hati saya berdoa semoga kelak dia jadi pempimpin besar di negeri ini.

Sementara dengan Mas Ganjar, bertemu sesekali saja ~seringnya di parkiran kampus, dan omong-omong sedikit tentang gerakan mahasiswa. Terlihat “bukan orang penting”, alih-alih ia memenuhi gambaran mahasiswa abadi yang santuy ~meski saya tahu nyaris tidak ada satupun aksi mahasiswa yang tidak melibatkan pemikiran atau perhatiannya. Ganjar adalah arus bawah. Mungkin itu sebabnya mengapa agak sulit buat saya untuk bersikap formal ketika kebetulan berjumpa di beberapa acara sewaktu ia menjadi anggota dewan bahkan ketika rapat di kantor gubernur. Ganjar memperkenalkan saya pada orang-orang sebagai “konco parkiran”.

Tulisan ini bukan dimaksud sebagai upaya ‘pansos’ ~menunjukkan kedekatan dengan tokoh ternama. Sebaliknya, saya ingin bilang bahwa Anies dan Ganjar adalah orang baik dan hebat jika kita sesekali malihatnya sebagai manusia atau sahabat. Biasa aja. Memuji salah satunya adalah hal baik, tapi mengangkat yang satu sembari menginjak yang lain terus terang bikin kepala sakit.

Misalnya, meski tidak terlalu tertarik soal balapan mobil, mau gak mau saya penasaran juga pingin ngerti dimana kerennya soal sirkuit dan event JIEC. Sayangnya, sebagian postingan sosmed dibanjiri gula pujapuji yang minim informasi. Hal yang sama ketika ada momen Ganjar yang bikin prestasi, membacanya seperti dipaksa menelan sebotol madu sekali teguk. Sebaliknya, kalau ada berita bencana banjir, entah di Jakarta atau di Jawa Tengah, berderaian caci maki hingga sulit untuk memahami pangkal soalnya. Dua orang itu dibandingkan, dihakimi dengan riuh dan keruh, seolah tak boleh ada dua matahari.

Anies dan Ganjar bukan matahari. Jika anda bepretensi jadi komentator politik atau sedang mengasah keahlian sebagai influencer atau buzzer, sebaiknya ingat bahwa Anies dan Ganjar adalah politisi. Dan sebagai politisi, langkah dan kebijakannya tidak melulu ditentukan oleh seberapa baik melainkan banyak faktor lain yang harus dikalkulasi. Kadang komitmen personal dan kapentingan institusional sejalan, lain waktu bisa jadi berseberangan. Buat kepentingan banyak orang, memuji atau mencaci tak banyak gunanya. Biasa saja. Apalagi kalau umur sudah lima puluhan, anda tahu bahwa politik adalah panggung yang bisa menyihir sore tetiba jadi pagi.

Anyway, seberapa kenal saya dengan Puan Maharani? Aduh….