Apakah gerakan mahasiswa dan pelajar Milenial bisa Tahan Lama?

Tidak perlu pengkondisian yg membosankan
Tidak perlu idiologi yang njelimet
Tidak perlu agitasi propaganda yg berapi api
Tidak perlu tata bahasa baku yang mengerikan
Tidak perlu harus paham semua masalah

Mereka adalah anak kelahiran zaman milenium yang terbebas dari euforia peristiwa2 yg pernah terjadi, bahkan nonton di televisi mereka belum melek. Mereka lahir ketika pertarungan idiologi yang dogmatis mulai melemah, sehingga mereka tidak terjangkit.

Mereka adalah rendemen carut marutnya sistem kehidupan, dimana tidak ada jaminan hidup dan masa depan. Seolah keberadaan negara tidak ada gunanya. Para elitnya gontok gontokkannya tidak berkaitan sama sekali untuk kepentingan kebahagian rakyat. Kalau tidak untuk kepentingan mereka sendiri ya justru untuk nyusahin rakyatnya.

Anak milenium lahir pada titik jenuh harapan pada pintu gerbang kemerdekaan karna diselewengkan oleh para elitnya.
Anak milenium lahir dengan kesadaran bahwa kemandirian ngurus diri sendiri adalah keniscayaan.
Biaya sekolah, biaya berobat, mau kerja setelah lulus, penghidupan yg layak; DIMANA NEGARA???
Ya bisa dibilang anak melenium cenderung invidualistik dan provit orientit.

Tapi jangan salah menilai,
Anak milenium punya solidaritas yang tinggi, mereka melek dan memiliki alat teknologi, tentunya beli sendiri.
Anak milenium cenderung mandiri. Karna tidak mau menyusahkan orang tua mereka yg selama ini berjibaku untuknya sambil memenuhi banyak sekali kewajiban pada negara.
Dengan teknologi media sosial mereka mengkonsolidasi diri. Dengan rasa solidaritas dan demi eksistensi mereka bisa mengepung dan gotong royong demi sebuah kata atau kalimat pendek. Lalu memunculah istilah VIRALKAN.

Demo mahasiswa dan pelajar dengan orasi seadanya, agitasi foster2 dengan bahasanya sendiri.
Yang hanya paham pasal2 viral yg katanya merugikan.
Apakah mereka hanya ikut2an??
Tidak, naluri solidaritas yang tinggilah yang menyatukan mereka.
Dengan gaya selengean, bersatu bak air bah yang tidak bisa dianggap remeh.
Jika tidak hati2 pendekatan penyelesaian, bisa saja mereka menggulung segala halang rintangan.

Tapi gerakan mereka memiliki tantangan yang berat, terutama soal kepemimpinan dan dasar pemikiran.
Tanpa pemahaman ideologi dan pembacaan situasi yang saling berkaitan secara matang, apakah gerakan mereka bisa TAHAN LAMA???
Waktu yang akan menjawab.

Ini akan menjadi bagian dari sejarah dan kajian menarik tentang teori gerak masa2 medatang.

Penulis : Gusti Kade Aryawan (Ketua KPW STN Lampung)