Asistensi Telekomunikasi untuk Masyarakat selama Pandemi Covid-19

Madani-News.com – Saat ini, dunia tengah dihadapkan dengan pandemi Corona Virus Disease 2019 atau lebih sering disebut dengan Covid-19 yang mewabah nyaris di setiap belahan dunia. Awalnya, tipe baru dari corona virus ini berawal pada sebuah laboratorium yang berdekatan dengan sebuah pasar hewan di kota Wuhan, China yang kemudian meluas dengan sangat cepat dan luas jangkauannya. Sehingga pada tanggal 11 Maret 2020, World Health Organization (WHO) menetapkan bahwa wabah Covid-19 ini merupakan pandemi yang terjadi secara global. Dengan adanya pandemi secara global ini memaksa berbagai negara memerintahkan warganya untuk melaksanakan lockdown dan isolasi mandiri. Khususnya di Indonesia sendiri menetapkan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), physical distancing, selalu menggunakan masker setiap kali berinteraksi dengan orang lain ataupun bepergian dan juga selalu menjaga kebersihan di manapun. Setiap harinya grafik pertumbuhan korban yang terpapar virus ini pun berbeda-beda di setiap negara, ada negara yang bisa menangani hal ini dengan baik, dan ada juga negara-negara yang masih kendor dalam menetapkan regulasi untuk penanganan pandemi ini. Selain menetapkan PSBB, upaya yang dilakukan demi menangani pandemi ini adalah dengan melakukan berbagai kegiatan secara daring (dalam jaringan). Berbagai aspek kehidupan yang biasanya kita lakukan secara langsung, harus dilakukan secara jarak jauh mengingat keadaan yang sedang terjadi saat ini. Kondisi ini memaksa bidang telekomunikasi untuk mengambil perannya dalam membantu manusia mempermudah pekerjaannya.

Pemerintah di Indonesia sendiri menetapkan berbagai regulasi guna memutus rantai penyebaran virus Covid-19, diantaranya dianjurkan untuk melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang dimulai pada tanggal 16 Maret 2020 dan juga anjuran untuk bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH). Namun pelaksanaan kegiatan secara daring ini tentu saja tidak mudah, masih banyak tantangan dan juga berbagai hambatan dalam pelaksanaannya. Diantaranya kendala jaringan yang tidak stabil, selain itu setiap orang yang dipaksa melakukan kegiatan secara daring ini belum tentu memahami dan juga menguasai teknologi dan tentu saja hal ini menjadi hambatan dalam pelaksanaan kegiatan secara daring. Untuk memenuhi segala kebutuhan dalam jaringan ini, tentu saja dibutuhkan telnologi telekomunikasi dan juga pihak penyedia jasa telekomunikasi. Telekomunikasi sendiri memiliki arti komunikasi yang dilakukan secara jarak jauh, perkembangan teknologi komunikasi ini pun makin berkembang seiring dengan berjalannya zaman, sudah menjadi tuntutan global untuk terus menyesuaikan dengan perkembangan teknologi yang ada dan sangat erat ikatannya dengan kehidupan sehari-hari. Khususnya pada pandemi ini, teknologi telekomunikasi sangat dibutuhkan dan juga bersangkutan dengan pelaksanaan segala kegiatan yang dijalankan secara virtual selama pandemi Covid-19 ini berlangsung.

Software penunjang kegiatan belajar mengajar dari jarak jauh dan juga online sedang gencar-gencarnya digunakan. Mengingat pemerintah menetapkan kebijakan untuk para tenaga pendidik dan juga peserta didik menjalankan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) selama masa pandemi ini. Para guru ataupun dosen biasanya menggunakan aplikasi WhatsApp yang dikelola oleh perusahaan WhatsApp Inc. untuk saling berdiskusi atau menyampaikan informasi mengenai pembelajaran. Selain itu, para pengajar juga dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran secara interaktif, yaitu dengan menggunakan aplikasi Zoom, Google Meet, Cisco Webex, Discord, dan masih banyak lagi. Dengan menggunakan media telekomunikasi tersebut, para pengajar dapat melakukan tatap maya dengan para peserta didik sekaligus memonitor secara langsung sejauh mana materi yang disampaikan dapat ditangkap secara efektif. Selain itu, untuk mencegah timbulnya rasa bosan dari para peserta didik, para pengajar juga dapat membuat video pembelajaran dengan memanfaatkan aplikasi berbagi video seperti YouTube agar para peserta didik dapat menyimak pemaparan materi yang disampaikan. Saat ini, banyak juga aplikasi yang dirancang untuk menunjang materi pembelajaran, seperti Ruang Guru, Zenius, Pahamify, dan lain-lain. Perusahaan pengelola software-software tersebut menyediakan layanan secara gratis namun dengan akses terbatas, untuk mendapatkan akses penuh biasanya pelanggan ditawarkan beberapa pilihan paket dengan harga yang berbeda-beda sesuai dengan fasilitas yang akan didapatkan. Kemudian, biasanya pada perguruan tinggi di setiap lembaga membentuk sistem website e-learning untuk memudahkan para mahasiswa mendapatkan informasi terkait perkuliahan dan juga untuk penyampaian pengaduan. Ruang akademik secara virtual ini dinilai efektif untuk menjadi alternatif pelaksanaan agenda akademik selama pandemi ini berlangsung.

Tidak hanya kegiatan belajar-mengajar yang dilaksanakan secara daring, beberapa pekerjaan juga dipaksa untuk dilaksanakan secara jarak jauh. Walaupun bekerja secara daring, namun perusahaan tetap menginginkan produktivitas karyawan tetap berjalan. Perusahaan penyedia jasa telekomunikasi tentu saja melihat keadaan ini sebagai peluang besar untuk melebarkan sayap bisnis mereka. Contohnya, seperti perusahaan Google yang mengembangkan aplikasi Google Meet yang dapat digunakan secara gratis untuk melaksanakan diskusi secara virtual. Selain itu, perusahaan Google juga mengembangkan aplikasi Google Drive yang menerapkan penyimpanan berbasis cloud, Google Drive ini memiliki keunggulan dapat menyimpan berbagai macam dokumen maupun link-link penting dan memiliki kapasitas sebesar 15 GB, selain itu Google Drive juga dapat memudahkan para karyawan untuk saling berbagi dokumen yang memiliki kapasitas besar dan dalam jumlah yang banyak.

Penyedia jasa telekomunikasi juga menyediakan fasilitas untuk kepentingan medis. Seperti aplikasi Worldometer yang menampilkan perkembangan real-time dari pasien yang terjangkit dan yang berhasil sembuh dari Covid-19. Aplikasi ini memudahkan masyarakat untuk terus memantau bagaimana penyebaran virus corona dari hari ke harinya. Selain itu, ada juga aplikasi seperti Halodoc dan Alodokter yang menyediakan berbagai informasi mengenai kesehatan, dan juga menyediakan fitur untuk berkomunikasi dengan dokter ahli untuk mengkonsultasikan berbagai keluhan yang dialami. Dengan adanya aplikasi-aplikasi tersebut dinilai sangat memudahkan masyarakat yang kesulitan dan merasa takut untuk mendatangi rumah sakit. Pengembangan aplikasi-aplikasi tersebut masih erat kaitannya dengan teknologi telekomunikasi yang disediakan untuk menunjang dan memudahkan kegiatan manusia.

Media massa digital juga memiliki peranan penting selama pandemi ini karena bertugas untuk memberikan berita dan juga informasi mengenai apa saja yang terjadi di luaran sana. Namun, terkadang berita yang disajikan kurang faktual dan juga bersifat hoax yang membuat masyarakat merasa kesulitan untuk menganalisis berita yang aktual. Peran pemerintah juga dibutuhkan disini untuk mengevaluasi penyampaian informasi kepada masyarakat agar tidak termakan oleh berita bohong. Selain itu, media digital juga harus menyediakan informasi yang menarik dan menghibur untuk menemani masyarakat yang merasa jenuh harus terus berada di rumah.

Berbagai kondisi-kondisi diatas, berbagai perusahaan penyedia jasa telekomunikasi tengah berlomba-lomba untuk menyediakan fasilitas terbaik dan terus memperbarui fitur aplikasi yang dimiliki demi memuaskan dan menarik konsumen. Perusahaan penyedia jasa ini meliputi, perusahaan penyedia layanan internet dan jaringan seperti Telkomsel, XL, Indosat, Tri dan masih banyak lagi. Berdasarkan penelitian, struktur industri telekomunikasi di Indonesia ini dikuasai oleh dua perusahaan besar, yaitu Telkomsel dan Indosat yang menguasai 81% dari pasar pengguna jaringan seluler di Indonesia. Selain itu, penyedia jasa telekomunikasi ini juga mencakup perusahaan pengembang dan pengelola software pendukung seperti Google, Zoom, WhatsApp dan lain sebagainya. Perusahaan alat elektronik juga memiliki pengaruh besar dalam pelaksanaan proses telekomunikasi karena mereka adalah industri penyedia perangkat keras yang akan digunakan, seperti Handphone, Laptop, Televisi yang tersedia dari berbagai merk dan dari perusahaan yang berbeda-beda.

Adanya kebijakan daring ini, membuat semua orang mengerjakan keperluannya di rumah dan secara online, maka penggunaan data internet juga sangat meningkat. Akses ke segala aplikasi penunjang juga sangat meningkat drastis. Sehingga dengan naiknya trafik penggunaan berbagai platform online, tentunya perusahaan yang bergerak di industri telekomunikasi ini harus terus memperluas layanan dan memperkuat jaringan, khususnya di daerah-daerah yang biasanya tidak terjamah teknologi dan juga jaringan yang tidak sampai kesana. Dengan besarnya lalu lintas jaringan, perusahaan telekomunikasi juga harus memastikan keamanan dari jaringan tersebut dan juga mengutamakan optimalisasi kinerja dari jaringan itu sendiri. Industri telekomunikasi juga sempat mengalami kenaikan keuntungan sebesar 9,9% pada awal diterapkannya WFH, PJJ, dan juga PSBB. Namun, mulai dari bulan April pendapatan mengalami penurunan karena operator terus menambah kapasitas pada jaringan dan tentu saja hal itu mengakibatkan adanya peningkatan biaya. Industri telekomunikasi juga dihadapkan pada tantangan untuk terus mempertahankan kualitas dari layanan jaringan yang disediakan, dan juga terus menambah serta meningkatkan fitur-fitur layanan jaringan untuk memenuhi kebutuhan konsumen dalam kurun waktu yang tidak pasti ini.

Berdasarkan pemaparan dapat disimpulkan bahwa industri telekomunikasi memiliki peranan yang sangat penting dan juga vital dalam menunjang segala kegiatan yang dilakukan pada masa pandemi ini. Pembaruan dan juga peningkatan harus terus dilakukan untuk memastikan segala kebutuhan masyarakat dapat diakses meskipun dilakukan dalam jaringan. Keluhan masyarakat dapat dijadikan acuan untuk memperbaiki layanan yang telah disediakan oleh perusahaan yang bergerak dalam bidang industri telekomunikasi ini, sehingga nantinya dapat membentuk fasilitas ruang virtual yang efisien untuk digunakan.

Penulis : Salwa Tasya Fathira Purba merupakan mahasiswa Program Studi Sistem Telekomunikasi Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Purwakarta Semester 2. Essai ini dibuat untuk memenuhi syarat kelulusan matakuliah Literasi TIK yang diampu oleh Bapak Syifaul Fuada, S. Pd., M. T. dan Bapak Hafiyyan Putra Pratama, S. ST., M. T.