Cacat Prosedur, Pemira UNTIRTA Digugat

Serang – Kontestasi Politik Kampus di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) tengah memanas, berbagai organisasi mahasiswa ekstra kampus di Untirta yang terdiri dari KAMMI Untirta, PMII Untirta, IMM Untirta, GMKI Untirta, HAMAS Untirta, dan UMC, mengajukan gugatan kepada KP2UM terkait poses Pemilihan Umum Raya (Pemira) Untirta 2020 yang diselenggarakan oleh KPUM, Rabu (10/03/2021).

Sebelumnya KPUM menetapkan pasangan calon (Paslon) Zarly – Tabiek yang diusung GMNI dan SAPMA PP lolos dan ditetapkan menjadi paslon tunggal serta aklamasi sebagai Presiden Mahasiswa dan Wakil Presiden Mahasiswa BEM KBM UNTIRTA 2021 pada proses verifikasi terbuka yang berlangsung di PKM A Untirta, Rabu dinihari. Dua Bakal Paslon lainnya Faras – Naufal yang diusung KAMMI – PMII dan Irfandi – Gemilang dari HMI dianggap tidak dapat melengkapi pemberkasan hingga waktu yang ditentukan. Keputusan tersebut mendapat protes dari para Bakal Paslon yang merasa dirugikan oleh pihak KPUM sebagai penyelenggara.

Wandi, selaku ketua Timses Paslon Faras – Naufal, dalam rilisnya menyatakan keberatan dengan keputusan KPUM. “Merujuk pada UU KBM UNTIRTA Amandemen 2020 BAB VII Pendaftaran, Verifikasi, dan Penetapan Nomor Urut, pada Pasal 25, disampaikan bahwa; Dalam hal verifikasi terdapat bakal pasangan calon yang tidak memenuhi syarat administrative dan mengakibatkan hanya terdapat 1 (satu) bakal pasangan calon, maka KPUM memberikan waktu 1x24jam untuk melengkapi persayaratan administratif tersebut. Artinya jelas, jika hanya ada satu Paslon maka pihak KPUM memberikan perpanjangan waktu 1×24 jam kepada Bakal Paslon untuk melengkapi pemberkasan, bukan memutuskan aklamasi”, tuturnya.

Wandi menambahkan bahwa pihaknya juga dirugikan akibat kelalaian pihak KPUM dalam hal penyampaian informasi terkait kelengkapan berkas calon. “Ketua KPUM menyampaikan bahwa kekurangan berkas Bakal Paslon Faras – Naufal hanya Pas Foto dan Visi Misi, yang kemudian bisa kami lengkapi sebelum penutupan verifikasi tertutup jam 03.00 WIB, namun ketika proses verifikasi terbuka ternyata ada berkas persyaratan lain yang tidak terlampirkan, yang kemudian membuat Paslon kami tidak diloloskan, seharusnya pihak KPUM bisa menginformasikan sejak awal jika memang ada kekurangan berkas lain”.

Sementara itu, Yassir selaku salah satu Tim Pemenangan Bakal Calon Wapresma menyampaikan bahwa kondisi persidangan tidak kondusif, hal ini disebabkan terlalu banyaknya Timses yang masuk ke ruang persidangan, yang di mana sebelumnya telah ditetapkan bahwa dari Timses dan Paslon yang masuk ke ruang sidang maksimal 5 orang. Hal ini dianggap membuat kondisi persidangan tidak sesuai kesepakatan awal dan KPUM tertekan secara psikis, sehingga dalam memutuskan hasil persidangan terkesan dalam tekanan dan intimidasi. “Bahkan dalam persidangan muncul kata ‘lakban mulut’ yang dilontarkan oleh salah satu oknum Timses sambil berdiri dan menunjuk-nunjuk salah satu rekan kami dari timses Faras – Naufal dan juga kata-kata ‘gw sikat lu’ sambil menunjuk ketua KPUM Untirta”, ujarnya.

Yassir menegaskan bahwa keputusan dalam sidang penetapan Calon Presiden Mahasiswa dan Wakil Presiden Mahasiswa Untirta oleh KPUM sudah tidak demokratis dengan adanya intimidasi. “Pemira Untirta tahun ini jelas cacat prosedur dan tidak demokratis dengan adanya intimidasi oleh timses salah satu palson dalam proses persidangan verifikasi terbuka. Saya berharap kedepan hal memalukan seperti ini tidak terjadi lagi, dan kami tidak pernah merasa kalah sebelum berjuang. Kami akan terus perjuangkan sampai akhir dan mencari keadilan – menghidupkan kembali akal sehat demokrasi mahasiswa”. Tutupnya.

(Red – Aldi)