Dampak dan Strategi Keuangan Personal di Tengah Pandemi Coronavirus Disease-19

Penulis: Agus Alimuddin (Pascasarjana Universitas Islam Indonesia)

Madani-News.com – Coronavirus Disease-19 (COVID-19) telah ditetapkan menjadi virus pandemi, artinya penyebaran virus ini sudah menyebar ke seluruh bagian dunia dan memiliki dampak signifikan terhadap keuangan di seluruh negara baik dalam lingkup mikro maupun makro, tapi dalam tulisan ini saya akan menjelaskan dampaknya terhadap keuangan personal. Diantaranya dampak yang terjadi, yakni:

Pertama, terganggunya pasokan (supply) dan permintaan (demand) didasari kekhawatiran masyarakat sehingga menimbulkan respon tindakan belanja secara masif sebagai upaya penyelamatan diri (panic buying), tentu ini menyebabkan demand menjadi signifikan yang menyebabkan supply di pasaran mengalami lonjakan permintaan sehingga menyebabkan inflasi menengah (galloping inflation). Dampak inflasi ini berpengaruh pada keuangan personal yang menyebabkan kita mengeluarkan uang lebih dari biasanya untuk memenuhi kebutuhan atau cost of living.

Kedua, peredaran uang di masyarakat yang lambat membuat aktivitas perekonomian berjalan lambat, faktor ekonomi ini berpengaruh ke seluruh aktivitas lainnya yang ikut melambat. Kelambatan ini berpengaruh kepada pendapatan perusahaan (dalam hal ini perusahaan swasta) yang berdampak kepada Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) untuk menjaga stabilitas perusahaan agar tidak collapse. Apakah ini melanggar Undang-Undang ? Tidak, karena kerugian bisa menjadi alasan untuk mengurangi jumlah tenaga kerja (UU No. 13 th 2003). Dengan adanya PHK berpengaruh besar terhadap hilangnya pendapatan masyarakat yang notaben ekonomi menengah kebawah dan para pekerja di sektor informal.

Setelah ditetapkannya COVID-19 sebagai bencana nasional (bencana non-alam) oleh Pemerintah, tentunya pemerintah pusat sampai tingkat daerah sudah melakukan berbagai upaya penanggulangan dengan berbagai bantuan yang sifatnya konsumtif (bantuan langsung tunai) dan sifatnya produktif (pra-kerja), serta berbagai kebijakan yang bertujuan meringankan beban masyarakat. Sampai saat ini saya meyakini dan berprasangka baik bahwa pemerintah sudah mendedikasikan kewajibannya atas nama rakyat, lalu apa yang bisa kita (masyarakat) lakukan di tengah Pandemi ini? Pada kondisi seperti ini kita perlu membantu kerja pemerintah melalui kesadaran diri, ada beberapa tips:

Pertama, tentunya kita dapat mengklasifikasi kembali skala prioritas kebutuhan primer (dasar atau pokok), sekunder, dan tersier. Setelah klasifikasi kebutuhan dilakukan langkah selanjutnya menurunkan standar kebutuhan secara sadar dengan menyeimbangkan keuangan secara nyata.

Kedua, mendisiplinkan diri untuk mengontrol pengeluaran dan lebih kreatif dalam mengatur keuangan, dengan mencatat pengeluaran sehingga bisa menjadi bahan intropeksi diri setelah mengeluarkan uang, karena pengeluaran dengan jumlah kecil tidak akan dirasa. Maka dengan mencatat mampu mengoreksi kembali sebesar apa jumlah pengeluaran atas uang yang kita punya.

Kemudiaan cara yang ketiga adalah setelah kebutuhan total sebulan penuh diketahui, maka selanjutnya menyediakan dana cair (cash/liquid) minimal 3 s/d 6 bulan sesuai dengan kebutuhan yang telah dihitung setiap bulannya.

Setelah dana cair sudah di rasa aman, langkah keempat yang dilakukan jika masih memiliki simpanan maka selanjutnya melakukan pembelian capital, seperti reksa dana, pasar modal, deposito, obligasi/surat berharga, dan emas yang bertujuan untuk menyimpan keuangan sebagai dana darurat yang suatu saat bisa mudah diakses dan cukup ketika menghadapi likuiditas keuangan. (*)