Desa : Membangun Masa Depan

Penulis : Dwi Nugroho (The Centre of Desa Studies, Payungi)

Beberapa pencapaian pembangunan abad ke 20 memang sangat membanggakan untuk sebuah ruang nilai baru. Namun, luka dan duka juga menjadi penyeimbang temuan-temuan science, yang konon akan digadang-gadang menjadi kesuksesan pembangunan. Perusakan lingkungan, pembabatan hutan, alih fungsi lahan dan bentuk-bentuk keserakahan lainnya menjadi konsekuensi yang telah mampu membuat dunia semakin kronis.

Hampir sama dengan temuan-temuan beberapa abad yang lalu bahwa ada variabel-variabel lain yang dikorbankan untuk mencapai ambisi-ambisi berpikir. Eksplorasi-eksplorasi yang dilakukan atas temuan-temuan abad 20 membuat keberlangsungan kehidupan tak lagi ramah, justru menjurus pada hal-hal yang brutal. Dan, sayangnya negara dunia ketiga mencoba mendefinisikan kesuksesan pembangunan dengan seberapa cepat industrialisasi dibangun.

Pandangan-pandangan perlente tersebut akan dengan sangat mudah mengubah framework pembangunan, yang secara perlahan mendestabilkan keseimbangan kehidupan. Kota dengan segudang program pembangunan selalu tampil terdepan sebagai district yang mengikis keseimbangan ekosistem kehidupan. Begitu pun negara tampil sebagai rumah besar yang terus memproduksi permasalahan-permasalan, perdebatan, dan ketegangan.

Tentu untuk merasionalisasikan apa yang diungkapkan oleh Stephen Oppenheimer dalam bukunya ‘Eden in the East’ bahwa Indonesia akan menjadi induk peradaban manusia modern di masa depan butuh kerja-kerja yang tersistematis, terpola, dan terkontrol. Dan, Desa ditengah urusan negara yang sangat complicated saat ini menjadi harapan besar untuk mendorong negara berada pada level tersebut.

Pembangunan sumber daya manusia adalah langkah awal yang harus dilakukan. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa perhatian terhadap sumber daya manusia memberikan dampak yang signifikan dalam pembangunan sebuah daerah. Pembangunan human capital secara langsung akan menekan angka kemiskinan berpikir, pengetahuan, gerakan, gagasan dan akses yang selama ini menjadi fundamental issues pedesaan.

Di dunia modern semua serba rasionalitas, yang menuntut manusia paham dengan multidisiplin keilmuan. Suspension judgement atau ‘ephoce’ harus selalu diterapkan karena untuk menentukan sebuah kebijakan, manusia tidak bisa menanggalkan setiap elemen yang kemungkinan akan terjadi. Perlu adanya alasan-alasan realistis atau dasar yang kuat untuk menentukan sebuah nilai, bukan berdasarkan pada sudut pandang pribadi.

Peningkatan pengetahuan adalah kunci utama untuk membuat desa berdaya, kuat dalam analisis, kuat dalam ekonomi, kuat dalam paradigma, dan selaras serta solid dalam gerakan. Desa dengan tradisi yang ada setidaknya telah memiliki nilai kematangan dalam segi solidaritas. Namun tradisi-tradisi tersebut dalam kajian hermeneutika, akan mati, monoton, dan mandek jika tidak dihidupkan secara terus menerus sesuai dengan realitas sosial yang terbangun.

Begitu pun tradisi kritis desa atas persoalan-persoalan elementer, misal strategi pembangunan, target, dan kebijakan akan luntur dan membuat desa seperti ruang mati dalam sistem kenegaraan. Hingga akhirnya tidak ada rasionalitas berpikir desa karena mandeknya tradisi-tradisi yang ada.

Desa memanggil anak-anak muda untuk pulang dan membangun. Karena Desa yang maju adalah desa yang mampu memberi ruang pada anak-anak muda untuk berkarya dan berdaya. Selain itu mampu menciptakan realitas sosial yang relevan dengan kebutuhan masa depan.

Mari bangun desa karena desa adalah masa depan peradaban. Menjadi manusia urban hanya akan menjadikan manusia yang tidak ramah, tidak toleran, dan memisahkan diri dari peradaban civil society. (*)