Dwita Ria: Kurikulum Pendidikan Vokasi Harus Menjawab Kebutuhan DU-DI

 10 total views

Madani-News.com – Bandar Lampung – Ir. Dwita Ria Gunadi, Anggota Komisi X DPR RI meminta agar program studi Perjalanan Wisata yang ada di Politeknik Negeri Lampung (Polinela) kurikulumnya terus di update agar dapat menjawab kebutuhan dunia usaha dan dunia industri pariwisata (Dudi). Hal itu disampaikan dalam kegiatan focuss group discussion (FGD) di Polinela pada Sabtu (21/12) yang digagas oleh Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) bertempat di Ruang Sidang Polinela.

Dwita Ria, menjelaskan bahwa saat ini justru pengangguran terbesar disumbang oleh sekolah vokasi yaitu SMK dan Diploma. “Kalau kita melihat data BPS Saat ini, jumlah pengangguran di Indonesia berjumlah 6,82 juta orang, lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih menyumbang angka pengangguran tertinggi di antara tingkat pendidikan lain, yaitu sebesar 8,63 persen. Jumlah tertinggi berikutnya terdapat pada tingkat Diploma I/II/III (6,89 persen).” ujar Dwita Ria

Dwita Ria menyampaikan, untuk masuk dunia pariwisata mahasiswa vokasi harus banyak dibekali ilmu praktik dan pengalaman. “Saya usul kepada Kaprodi agar mahasiswa dibentuk kelompok dan belajar membuat agen travel sebagai tugas akhir mereka, karena kalau mereka lulus hanya jadi karyawan agent travel yang ada, sangat sayang, karena 3 tahun itu bukan waktu sebentar” kata Dwita Ria

Dwita Ria menegaskan bahwa Pendidikan Vokasi yang ada tidak boleh kalah dengan yang lulusan LPK dan LPSK “Mereka langsung tersertifikasi, dan langsung terserap dunia kerja. Jadi kalau kalian tidak punya pengalaman dan kompetensi yang baik, maka kalian hanya akan menambah jumlah pengangguran di Indonesia” kata Dwita Ria.

Dwita menjelaskan bahwa saat ini berdasarkan Data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah lulusan perguruan tinggi di Indonesia setiap tahunnya mencapai 350 ribu orang. Ironisnya lagi, banyaknya lulusan dibandingkan dengan pertumbuhan perusahaan tidak rasio. Artinya dengan lulusan 350ribu orang setiap tahunnya akan banyak lulusan sarjana yang tidak terserap dipasar kerja. (Red)