Ini Alasan Kenapa Kamu Wajib Ke Luar Negeri

Madani-News.com – Setiap orang pasti pernah bermimpi untuk bisa pergi ke luar negeri. Apalagi jika tujuannya untuk belajar, berkompetisi, misi sosial, atau menebar kebermanfaatan. Tapi, siapa sangka, banyak juga dari mereka yang mengubur dalam-dalam mimpi itu karena berbagai alasan yang menjadikannya terasa mustahil. Namun, hal itu tidak berlaku bagi pemuda asli Serang, Banten ini.

Muhammad Mukhlas atau biasa disapa Mukhlas telah menginjakkan kakinya ke 12 Negara semasa kuliah. Namun, ia tak mengeluarkan banyak biaya untuk itu, sebab sebagian besar perjalanannya ke berbagai Negara didanai alias gratis. Tentu, hal itulah yang sangat diimpikan oleh banyak orang.

Bedanya, pemuda lulusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Islam Indonesia ini tak sekadar bermimpi. Ia telah menyiapkan strategi sejak lama. Yakni ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).

“Kala itu saya ingin sekali ke Australia sebagai negara yang akan saya kunjungi pertama kali,” ujar Mukhlas dalam seminar online yang diadakan oleh Sketsa Mimpi dan Barokah Foundation, Minggu (17/05/2020).

Setelah lima tahun kemudian, barulah ia bisa mencapai mimpinya melalui program praktik mengajar yang diadakan oleh pihak jurusan di kampusnya. Yang pasti, jalannya tidak mudah. Ia belajar bahasa Inggris bertahun-tahun untuk menyambut program itu, belum lagi saat mendaftar, ia masih duduk di semester dua.

“Padahal saingan pesertanya adalah kakak tingkat yang duduk di semester akhir. Saya adalah satu-satunya mahasiswa baru yang berani mencoba megikuti seleksi beasiswa praktik mengajar di Australia tersebut,” tutur Mukhlas.

Atas kehendak Allah, dari puluhan mahasiswa tingkat atas yang mendaftar, akhirnya ia terpilih sebagai salah satu peserta yang diberangkatkan ke Australia untuk menjalankan Praktikum Profesi Lapangan di Rosebud Secondary College dengan dibiayai penuh oleh pihak kampus. Di sana ia tinggal bersama dengan warga lokal yang sekaligus menjadi keluarga angkatnya. Sembari belajar dan melaksanakan tugas akademik, ia bisa tahu banyak hal tentang kehidupan dan budaya di Negara Australia, terutama dalam sistem pendidikannya. Pengalaman itu membuatnya begitu terkesan.

“Berasa kayak lagi film-film. Tinggal bersama keluarga orang barat, terus mengajar juga di sekolah,” ujarnya kepada para peserta di grup WhatsApp.

Sejak pertama ke luar negeri kala itu, ia menjadi semakin bersemangat dan lebih percaya diri untuk mengikuti dan mencoba berbagai kegiatan lainnya. Pada tahun-tahun selanjutnya ia aktif mengikuti berbagai kegiatan di forum akademik. Alhasil, berbagai prestasi telah ia goreskan. Diantaranya sebagai pemenang olimpiade Linguistik dan Bahasa Modern yang diselenggarakan oleh Pemerintah Rusia, presenter penelitian di Techsnishe Universitat Harburg, Jerman dan di Istanbul, Turki, sukses mengikuti Pertukaran Pemuda Indonesia-Thailand di Sukhothai & Bangkok, Thailand, dan masih banyak lagi.

“Kalau saya tidak berani mencoba kala itu, mungkin saya tidak pernah mendapatakan pengalaman yang begitu berharga seperti sekarang ini,” katanya.

Satu hal yang ia tekankan kepada para peserta seminar, yakni tidak ada kenikmatan kecuali setelah bersusah payah. Menurutnya pemuda saat ini sudah seharusnya berpetualang hingga ke luar negeri. Sebab banyak sekali manfaat yang akan didapatkan.

Pertama, memperluas wawasan. Saat mengikuti sebuah program di luar negeri, kata Mukhlas, secara langsung para pemuda akan belajar hal-hal baru yang sebelumnya tidak ditemui di Indonesia. Seperti perbedaan budaya, adat, perilaku, yang nantinya akan memperkaya perskpetif atau sudut pandang.

“Broaden your perspective (knowledge) and enrich your cultural understanding. Saat ada di Australia misalnya, para pengendara motor atau mobil di sana akan lebih menghormati pejalan kaki. Atau saat teman-teman ada di negara maju, kita akan melihat fenomena warga negara yang sangat taat sekali terhadap aturan pemerintah. Seperti tidak buang sampah sembarangan, meski sekecil biji kurma. Serta contoh-contoh lainya yang akan menambah wawasan kita,” tutur Mukhlas.

Kedua, kegiatan di luar negeri akan menjadi peluang besar bagi untuk membangun relasi profesional. Hal itu sagat penting untuk membangun karir di masa depan. “Build your professional network.”

“Sebagai contoh, istri saya adalah penerima beasiswa Leadrship Training dari Kementerian Agama di Deakin University Australia. Sejak mengikuti program tersebut, istri saya aktif berkomunikasi dengan profesor-profesor di sana. Karena komunikasi yang baik, profesor di sana meminta Istri saya untuk menjadi Asisten Profesor di Fakultas Ilmus Sosial di Deakin University Australia. Ini adalah gambaran bagaimana profesional networking akan membantu future career kalian nantinya,” ujarnya sembari memotivasi peserta.

Ketiga, sudah sangat jelas bahwa saat di luar negeri, akan banyak hal- hal baru yang bisa dipelajari yang tidak diajarkan di kampus. Menurutnya hal itu dapat dilakukan oleh siapa saja. Caranya, tentukan target kegaitan apa yang ingin dikuti. Saat ini banyak sekali program-program yang ditawarkan oleh berbagai instansi pemerintah maupun swasta. “Informasi program banyak ditemukan di google atau di media sosial.”

Kemudian persiapkan skill apa yang diperlukan untuk mencapai target tersebut. Terakhir, lakukan dengan sungguh-sungguh. Man jadda wa jada. “Misal, ketika sudah tahu bahwa bahasa Inggris adalah skill yang penting, maka bersungguh-sunguhlah mempelajarinya.”

Intinya, menurut Mukhlas, jangan pernah takut mencoba apa pun. Tidak boleh berperilaku pesimis, sebab Allah bersama prasangka hambanya.

“Selama kita yakin kita bisa melakukannya, di sana ada tangan tuhan yang ikut serta membantu usaha kita,” tutupnya. (Red-Reski Febriani-SM)