Janda

Madan-News.com – Kemarin, Setelah lama tidak aktif, saya coba membuka instagram kembali. Alih-alih ingin stalking doi, saya malah dihadapkan postingan dari salah satu penulis buku ‘Syak Merah Jambu’, Susy Ilona, yang membuat saya sedikit tersentak. Pada postingan mbak susy ini, foto tersebut berisi tentang curhatan seorang janda yang mendapat penolakan dari keluarga sang kekasih. Pasalnya, penolakan itu disampaikan karena ia adalah seorang janda.

Memang, akan sangat mudah sekali ditemui, komentar negatif cum sinis tentang stigma janda ini, di lini media sosial atau di lingkungan masyarakat sekalipun, yang berujung pada sulitnya ‘janda’ diterima baik oleh lingkungannya.

Saya sendiri kurang faham, mengapa masyarakat dengan mudahnya memberi label negatif terhadap kelompok ‘janda’ tersebut. Padahal, siapa yang bisa jamin, bahwa mereka, penyandang status janda, belum tentu karena murni kesalahan sendiri, seperti yang umum didongengkan banyak orang .

“Liat tuh, janda, pasti dia perempuan nakal, nggak bisa diatur, nggak sabar sama suaminya, mangkanya diceraikan.”

Padahal, bukan tidak mungkin, menjadi janda atau perempuan kepala keluarga adalah satu pilihan sulit yang diambil setelah memikirkan banyak pertimbangan demi untuk keluar dari lingkaran ketidakadilan dan kekerasan dalam rumah tangga. Dan bukankah itu tidak mudah?

Hal serupa pernah saya temui pada salah satu karyawan perusahaan tempat saya magang, dulu. Disela kami bekerja, karyawati tersebut menceritakan tentang asal-usulnya, dimana sebelumnya, ia adalah seorang janda dengan latar belakang; suami yang keras dan tidak bertanggungjawab.

“Tidak mudah mbak jadi janda itu,”. ujarnya kepada saya.

“Yang mendapat stigma negatif bukan hanya saya, mbak. lanjutnya, anak dan orangtua saya juga kena, sampai ibu saya harus keluar dari pegajian rutin demi untuk menghindari gosip buruk tentang saya, atau perkataan yang seolah orangtua saya nggak bisa momong mantu.”

Menjadi seorang perempuan kepala keluarga tidaklah mudah memang. Setelah ia sah berpisah dengan suaminya, ia tidak hanya menanggung stigma negatif yang melekat pada diri seorang janda, akan tetapi juga kebutuhan hidupnya dan anaknya.

Ketika dihadapkan dengan persoalan ini, perasaan dilematis tentu ada, dimana pada satu sisi ia harus mencari uang untuk makan, membeli susu, sekolah anak, ia juga harus meluangkan waktu mendampingi anaknya yang sedang dalam masa pertumbuhan.

Dan karyawati yang saya kenal ini, ia terus bergelut dengan waktu untuk ‘anak’ dan ‘kerja’. Ia tidak pernah mengenal hari libur. Pada akhir pekan yang seharusnya ia habiskan dengan anak-anaknya, harus ia isi dengan mencari kerja sampingan, menjadi MC di acara pernikahan atau pemateri di beberapa perusahaan pada bidang yang ia tekuni. Yang hasilnya tidak lain, juga untuk menutup hutang yang diwariskan oleh mantan suaminya.

“Saya mau buktikan ke mantan suami saya, mbak. Tanpa dia, saya bisa hidup. Tanpa dia, anak-anak bisa aman di tangan saya.”

Tetapi, tidak jarang, pekerjaan sampingan yang ia tekuni itu juga mendapat tanggapan buruk dari masyarakat, pulang yang sampai malam membuat masyarakat beranggapan bahwa ia adalah seorang ‘perempuan nakal’

“Berat sekali jadi janda, mbak. Kerja pulang malam dikit aja dikira jadi pelacur. Nggak pernah di rumah, dikira jalan sama suami orang, bekerja dianggap menelantarkan anak, tidak bekerja dicibir, diketawain, diperlakukan semena-mena. dah pokoknya kuat-kuat iman sama hati”. Ujarnya, dengan mata yang berkaca-kaca saat itu.

“Tapi saya juga nggak mau tau, mbak. Urusan dunia ini jadi makin rumit kan karena kita nanggepin nyinyir-an orang. Pokoknya saya kerja keras begini untuk anak-anak saya. Kalau temannya bisa beli ini, anak saya juga bisa.” Tambahnya.

saya melihat sosok perempuan kepala keluarga ini, seorang janda, menjadi lebih percaya diri. Ia percaya diri karena ia bekerja, ia percaya diri karena ia membuktikan bahwa perempuan tidak melulu bergantung kepada lelaki, ia percaya diri karena ia melihat masa depan dan mematahkan semua label tentang janda yang dicapkan kepadanya.

Karyawati yang saya temui beberapa bulan lalu itu telah membuktikan, bahwa tak ada yang salah dengan janda. Mereka bisa bekerja, menyekolahkan anak mereka, tidak menggantungkan hidupnya, dan mengembangkan kemampuannya. Meskipun, tidaklah mudah kenyataan tersebut akan langsung diterima oleh sebagian orang yang masih kolot dengan status janda ini.

Barangkali, kampanye dan penyadaran tentang perempuan kepala keluarga, tentang perspektif gender, tentang anti-kekerasan terhadap perempuan, tentang kekerasan dalam rumah tangga, harus lebih gencar dan menarik.

Tentu, agar tidak ada lagi orang memandang sebelah mata tentang janda, agar masyarakat mampu menghilangkan stigma negatif tersebut dengan mengembalikan kepercayaan diri seorang janda untuk tampil sebagai perempuan kepala keluarga yang kuat, berdaya, yang tidak hanya menggantungkan hidupnya pada seorang lelaki. Mereka manusia, mereka berhak merdeka.

Penulis : Ririn Erviana (Metro, 17 Juni 2019)