KAMMI UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten Desak Presiden Joko Widodo Kecam dan Tuntut Emmanuel Macron

 6 total views

Banten, Serang –¬†KAMMI UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten mendesak Presiden Joko Widodo kecam dan tuntut Emmanuel Macron meminta maaf kepada umat Islam.

Di ketahui pada (22/10/2020) Presiden Prancis Emmanuel Macron mengeluarkan pernyataan yang telah menghina dan menyudutkan umat Islam dengan menegaskan bahwa ia tak akan melarang pencetakan kembali karikatur penghinaan Nabi Muhammad Saw oleh majalah satire Charlie Hebdo. Selain itu, ia juga mengatakan bahwa Islam adalah agama yang mengalami krisis.

Akibat dari pernyataan kontroversial tersebut, Emmanuel Macron mendapatkan kecaman dari berbagai tokoh dan pemimpin dunia. Diantaranya Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Perdana Menteri Pakistan Imran Khan, Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohammad dan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei.

Ketua Umum KAMMI UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten Nuriman mengatakan, sangat prihatin ketika para pemimpin dunia Islam melakukan kecaman keras terhadap Emmanuel Macron, Indonesia dengan mayoritas penduduk muslim terbesar di dunia dan negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan, pemimpinnya masih diam dan belum menunjukkan sikap.

“Kecaman dan tuntutan langsung dari seorang Presiden Joko Widodo sebagai kepala negara merupakan hal yang di tunggu oleh umat Islam Indonesia” Katanya, Jumat 30 Oktober 2020.

Menurutnya, kecaman langsung yang diucapkan seorang kepala negara adalah bukti dan keseriusan pemerintah Indonesia dalam merespon penghinaan Emmanuel Macron, karena hal ini bukan hanya soal keyakinan beragama melainkan nilai-nilai kemanusiaan yang telah di rusak.

“Kita itu perlu sikap tegas dari seorang Presiden, bukan hanya kecaman yang dilakukan oleh Kemlu ataupun Menkopolhukam. Kebebasan berekspresi itu memang harus di kedepankan, namun tidak pula melakukannya dengan penghinaan terhadap agama lain” Ujarnya.

Selanjutnya ia menambahkan bahwa merespon Emmanuel Macron dengan kecaman dan tuntutan agar meminta maaf kepada umat Islam, menunjukkan secara tegas posisi Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia. Hal ini pula sejalan dengan UUD 1945 bahwa Indonesia tegas berperan serta dalam melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Nuriman menegaskan Presiden Joko Widodo agar tidak khawatir apalagi takut untuk melakukan kecaman dan tuntutan kepada Emmanuel Macron. Sebab pernyataan Presiden Prancis itu memang sudah salah kaprah, ketika terjadi pembunuhan seorang guru oleh pemuda muslim di negaranya akibat menunjukkan karikatur yang menghina Nabi Muhammad Saw, bukan berarti Islam di generalisir sebagai agama teror dan hendak membalasnya dengan terus mencetak karikatur penghinaan terhadap Nabi Muhammad Saw,

“Sekali lagi saya katakan kebebasan berekspresi itu memang harus di kedepankan namun tidak dengan menghina agama lain. Sebuah kejadian yang wajar seorang marah ketika agama atau keyakinannya di hina. Dan tidak cerdas seorang pemimpin seperti Emmanuel Macron melakukan penghakiman kepada agama seorang yang dihina, seharusnya penghina lah yang mendapat hukuman. Dan lebih tidak cerdas lagi apabila seorang kepala negara diam ketika agamanya di hina” tandasnya.

Selain desakan untuk mengecam pernyataan Emmanuel Macron, Nuriman menambahkan bahwa Presiden Joko Widodo jangan pernah lupa bahwa sampai saat ini UU Cipta Kerja masih terus mengalami penolakan dan agar segera menyelesaikan persoalan itu.

“Bapak Presiden juga jangan sampai lupa soal UU Ciptaker yang bermasalah, mendapatkan banyak penolakan di kalangan masyarakat, maka dari itu baiknya beliau segera terbitkan Perppu pembatalan UU Ciptaker agar stabilitas politik terjaga dan keamanan serta kehendak rakyat kembali terwujud”.¬†(*)