Kebaikan akan Menular

Madani-News.com – Saya selalu percaya bahwa kebaikan itu akan terus menular dan bertumbuh di mana-mana, dan oleh siapa saja. Sore ini, kakak-kakak dari Yayasan Yatim Mandiri dan UIN Raden Intan Lampung berkunjung ke Kampoeng Dolanan 28 membawa nafas panjang kebaikan itu sendiri.

Sepekan lalu mbak Zizy Eka Apriliya salah satu pengurus Yayasan Yatim Mandiri Lampung cabang Kota Metro DM saya di Instagram menanyakan kegiatan-kegiatan di Kampoeng Dolanan Purwosari, percakapan terus berlanjut saat mbak Zizy kemudian mengunjungi Kampoeng Dolanan 28 untuk melihat situasi juga potensi. Dari percakapan yang panjang tersebut, mbak Zizy dan Tim YM Lampung kemudian mengajak kolaborasi membentuk sanggar belajar jenius untuk anak-anak yatim/piatu dan dhuafa di Kampoeng Dolanan 28.

Sanggar Belajar Jenius ini sementara difokuskan untuk belajar keagamaan dan beberapa pelajaran umum. Namun ke depan saya bermimpi juga akan ada sanggar-sanggar penunjang lain di Kampoeng Dolanan 28 seperti sanggar untuk pendampingan anak putus sekolah, anak korban kekerasan, konseling untuk anak-anak yang kehilangan orangtuanya, karena kita semua harus cukup paham bahwa setiap anak memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan, hak untuk mendapat pengasuhan dan perlindungan dari kekerasan maupun penganiayaan fisik dan mental, serta hak bebas dari segala bentuk eksploitasi.

Tentu saja hal ini tidak bisa terwujud jika tidak dilakukan secara kolaborasi dengan lingkungan setempat, entah itu dari masyarakat yang turut menjaga lingkungannya agar tetap aman dan nyaman termasuk perihal sanitasi. Dari perguruan tinggi maupun pondok pesantren yang dapat melibatkan mahasiswa maupun santrinya untuk ambil peran pada kerja-kerja pemberdayaan pada masyarakat; seperti melakukan pengabdian dengan menciptakan ruang ramah anak, pendampingan pengasuhan terhadap anak-anak, atau pemberdayaan socio-preneur untuk lingkungan masyarakat yang bisa berimpact pada pemberdayaan anak, dan bukannya malah mengalienasi diri dari masyarakat dan saklek dalam bidang keilmuannya sendiri dengan membangun tembok-tembok tinggi.

Kelihatanya memang sulit, tapi bukan berarti tidak mungkin. Syukur-syukur jika pemberdayaan anak di Kampoeng Dolanan 28 ini kemudian bisa terus berkembang dengan mencoba menerapkan konsep kolaborasi Pentahelix sebagai bentuk keseriusan terhadap pemenuhan hak-hak anak yang juga berarti memberikan kesempatan mereka untuk tumbuh di lingkungan yang supportif.

Namun, saya tetap menyadari bahwa jalan pemberdayaan bukanlah sebuah proses yang dapat dikerjakan dengan singkat, jalan pemberdayaan juga bukan jalan yang bisa diambil dengan tergesa-gesa. Saya masih mengingat betul bagaimana guru saya mengatakan bahwa sejatinya pemberdayaan adalah proses dan jalan yang panjang itu sendiri, tak pernah usai, tapi semoga; panjang umur.

Penulis : Wahyu Pujiastuti (Founder Kampoeng Dolanan 28)