Kebudayaan dan Solidaritas Warga Desa

Penulis: Dwi Nugroho, SE (Pemerhati Pembangunan Desa)

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu Buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari Buddhi (akal) yang berarti budi dan akal manusia. Budaya merupakan sebuah konsep hidup yang disepakati bersama. Meskipun masih bersifat abstrak dan luas karena terbangun dari berbagai pembenturan agama, etnis, adat, kebiasaan, kebijakan dan lainnya, budaya mampu membentuk nilai utuh dalam konsepsi bermasyarakat.

Rafael Raga Maran dalam bukunya “Manusia dan Kebudayaan Dalam Perspektif Ilmu Budaya Dasar”, menjelaskan bahwa kebudayaan merupakan persamaan kodrat. Hal ini berarti budaya merupakan nilai yang menuntut persamaan struktur dan level. Budaya tidak membeda-bedakan tingkat ekonomi, sosial kemasyarakatan, ataupun level pendidikan.

Namun, sayangnya, sekarang ini sukar untuk dapat memastikan bahwa generasi muda dapat peka terhadap tradisi dan juga budayanya. Hipotesis yang saya bangun adalah bahwa anak-anak muda lebih menyukai apa yang saat ini gencar dikampanyekan oleh media sosial. Budaya asing, misalnya Jepang dan Korea, lebih mudah diterima oleh anak-anak muda jika membandingkannya dengan budaya nenek moyangnya sendiri.

Peminggiran nilai-nilai kebudayaan tersebut sama dengan proses laku pembunuhan identitas suatu kelompok. Budaya, pada dasarnya, merupakan sebuah nilai yang mahal harganya. Budaya bukan tentang aktivitas orang-orang yang telah hidup di masa lalu, melainkan tentang nilai kesatuan: kenegaraan, keberagaman, keagamaan, dan lingkungan.

Media dan Alenialisasi Budaya Lokal

Degradasi nilai budaya di tengah-tengah masyarakat urban tentu menjadi sebuah ukuran kesuksesan modernisasi media digital. Pada tahap ini, fasilitas digital mampu merubah paradigma masyarakat yang tradisional menjadi universal. Faktanya, ada sekitar 171 juta jiwa masyarakat Indonesia yang menggunakan Internet dan pada saat yang sama Kominfo menegaskan bahwa terdapat 64,8 persen pengguna aktif baik Facebook, Instagram, dan juga Youtube.

Selain itu, pertumbuhan pengguna internet tiap tahun meningkat rata-rata sekitar 10,2 persen atau setara dengan 17 juta jiwa. Facebook dalam tahap ini telah menjadi media yang digandrungi oleh masyarakat, baik anak muda maupun orang tua.
Dalam kehidupan sosial-kemasyarakatan, budaya pada konsepnya merupakan cita-cita yang menjadi filosofi dasar masyarakat Jawa. Seperti apa yang dijelaskan oleh Leach bahwa nilai kebersamaan dan hidup telah menjadi filosofi kehidupan yang terorganisasi dengan rapi dan seimbang.

Penggiringan ide dan gagasan semakin mudah dilakukan dengan menggunakan fasilitas digital tersebut. Termasuk diantaranya proses marjinalisasi budaya lokal. Meskipun tidak semuanya benar, namun kita akan buktikan jika media punya peran dalam pemunduran budaya.

Masyarakat Jawa, misalnya – menurut Budiono Herusatoto dalam bukunya “Simbolis Jawa” menjelaskan secara antropologi budaya bahwa etnis Jawa merupakan orang-orang yang secara garis keturunan menggunakan bahasa Jawa dan tinggal di Jawa Tengah dan Jawa Timur – sudah mulai meninggalkan apa yang kemudian menjadi ciri khasnya. Tidak hanya itu, bahkan banyak dari mereka (anak-anak muda) yang tidak secara dalam atau bahkan tidak mengetahui falsafah budaya dan juga tradisi yang menjadi identitas.

Budaya yang hari ini diperkenalkan adalah budaya yang kemudian telah menjadi sejarah. Artinya masyarakat tidak mengambil peran dalam pelestarian budaya di tengah-tengah modernisasi budaya. Mereka membiarkan budaya menjadi perbincangan publik dalam konsep literatur.

Budaya, Agama dan Desa

W. Robertson Smith dalam bukunya Lectures on Religion of the Semites mengungkapkan tentang ritual keagamaan yang menjadi sebuah budaya. Menurutnya upacara Religi berfungsi untuk meningkatkan nilai solidaritas. Artinya, tujuan dari ritual keagamaan tidak hanya bertujuan sebagai pendekatan atau nilai kesadaran masyarakat untuk meningkatkan ketakwaan pada tuhannya, melainkan juga untuk peningkatan nilai kesadaran sosial.

Mengungkap kebenaran-kebenaran di masa lalu tentu membutuhkan banyak referensi yang dapat mendukung. Misal, menggali informasi budaya dari orang-orang yang mempunyai usia yang panjang. Meskipun literatur pustaka, dewasa ini, telah banyak mengungkap sejarah kebudayaan, namun keyakinan saya menyimpulkan bahwa tidak sedalam nilai sumber primer.

Saya pernah melakukan penelitian sederhana tentang sejarah pembentukan desa. Bukan berarti saya tidak percaya dengan apa yang telah di publikasikan di dalam buku sejarah desa, namun ada banyak hal yang tidak di tulis di dalamnya. Padahal, budaya merupakan sebuah nilai yang berpotensi untuk membangun desa. Melalui budaya tentu orang dapat memberikan pengaruh atau merangsang orang untuk berpikir dengan logika dunia.

Budaya pada dasarnya akan menjadi sebuah potensi jika dirasionalisasikan secara benar. Koentjaraningrat menjelaskan bahwa jika sejak kecil anak-anak diberikan pemahaman terkait nilai budaya, maka konsepsi budaya akan berakar dan sukar digantikan oleh budaya lain dalam waktu yang singkat.

Nilai budaya tentu bersifat partikularistik, artinya menjadi khas dalam wilayah budaya suku bangsa tertentu. Meskipun Koentjaraningrat mengungkapkan bahwa sinkretisme juga menjadi tradisi laten di masyarakat Jawa, suatu keadaan dimana masyarakat mengakui bahwa Islam merupakan agamanya, namun mereka tidak menjalankan salat lima waktu, puasa ramadhan, zakat, dan haji, budaya memiliki kekuatan magis untuk membangun nilai solidaritas warga.

Budaya akan mampu mengintegrasikan solidaritas masyarakat. Emile Durkheim menyebut ada dua bentuk solidaritas di dalam kehidupan masyarakat, yaitu solidaritas mekanis dan organis. Dalam konsep pembangunan, solidaritas dibutuhkan untuk mendorong atau membagi beban pemberdayaan. Sikap gotong royong menjadi sebuah konsep yang harus digunakan untuk menurunkan beban pembangunan.

Pertama, solidaritas mekanis, yaitu kesadaran yang dimiliki oleh masyarakat dimana dengan sadar mereka bekerja secara kolektif. Kesadaran mereka terhadap norma-norma keagamaan juga masih tinggi. Konsep ini secara luas diartikan sebagai upaya integrasi struktural yang kemudian menghasilkan gerakan bersama dan saling support terhadap kelemahan dan kelebihan sebuah kelompok atau individu.

Sedangkan, solidaritas organis, yaitu dimana setiap orang mempunyai peran saling bergantung, sebagaimana organ tubuh yang mempunyai peran dan fungsi masing-masing. Solidaritas ini terjadi secara alamiah. Kedua bentuk solidaritas tersebut dibutuhkan oleh masyarakat dalam membangun konsep bermasyarakat yang baik.

Solidaritas dalam budaya menjadi sebuah gerakan yang kemudian akan menghasilkan out put yang jelas karena setiap tindakan dilandasi dengan nilai kebersamaan. Saya yakin bahwa nilai-nilai yang terkandung di dalam sebuah budaya akan menciptakan gerakan yang solid. Namun, sayangnya degradasi nilai dalam kebudayaan terus terjadi di dalam kehidupan masyarakat. Maka, seyogyanya kita harus sadar dengan pemunduran nilai-nilai budaya. (Red)