Kemendikbud Digital?

Madani-News.com – Lalu apa yang mau kita harapkan lagi dimasa depan setelah era digital bergulir? Digital membuat kita semua bisa saling terkoneksi. Saya pribadi mengucap syukur atas era ini, tapi juga khawatir kita akan jadi buruh-buruh baru dengan system digital ini. Memakai aplikasi, tapi dikendalikan oleh system tersebut.

Teknis sekali memang, tanpa filsafat, tanpa critical thinking, tanpa literasi yang memadai, tanpa moral, tanpa karakter, penemuan digital akan membuat kerusakan-kerusakan baru. Para sarjana dimudahkan dengan berbagai aplikasi tapi enggan menyelamatkan budaya lokal bangsa kita. Dan ini tidak tersambung dengan generasi tua, yang susah payah hidup tergerus kolektifitasnya.

Masyarakat adat yang tidak mengenal digital sanggup mempertahankan kulinernya, nilai-nilai adatnya, menjaga alamnya, menghargai keberagaman hayati dan semua potensinya. Tidak harus menjadi buruh, karena adat memperkuat tatanan ekonomi pemerataan, contoh baik adalah adat Kasepuhan Ciptagelar. Yang terjadi setelah digital, kita saling memakan, saling mengeksploitasi, mereka memindah kapital ke aplikasi. Ada yang dulu bisa ngojek sambil santai ngopi, ngerokok dan main catur santai. Hari ini orang ngojek harus meraih 31 bintang dalam sehari. Driver GoCar bahkan rela keluar jam 05.00 pagi sampai 23.00 malam. Begitulah buruh digital, sialnya negara dan perguruan tinggi memang belum ada upaya serius dalam membangun output para sarjana.

Di pelosok desa, dana desa tak bisa membuat perubahan nyata, hanya dinikmati segelintir oknum desa. Tak ada pertumbugan ekonomi signifikan, padahal ada 1 miliar tiap tahun. Bagaimana digital membangun perubahan desa? Di Youtube kita bisa lihat, sudah banyak perubahan terjadi melalui media sosial dan aplikasi digital. Desa Wisata, Kampung Marketer, Kampung Desain, Kampung Digital dan lainnya.
Lalu Perguruan Tinggi mau kemana? Kurikulum sebaiknya juga harus menyesuaikan dengan perkembangan dunia digital. Saya membayangkan di masa depan system budaya adat tetap lestari, filsafat tetap diminati, sosialisme digital disatukan, dan produktivitas kita sebagai bangsa dalam pertahanan kreatifitas terus meningkat.

Digital dan gotong royong di desa-desa bisa menyatu. Digital dan gerakan petani kota (urban farming) menyatu. Mahasiswa kuliah di kelas-kelas pemberdayaan masyarakat. Kelas-kelas digital, kelas filsafat dan budaya lokal didiskusikan masuk ke kurikulum. Energi terbarukan, pertanian organik, peternakan terpadu, pasar-pasar rakyat dan kesalingan gender di ruang publik terbangun. Mereka menjadi calon sarjana dengan berbagai skill, yang penting lagi mereka menolak kepemilikian saham aplikasi digital menjadi milik segelintir orang.

Menteri Nadiem Makarim saya kira paham ini semua. Tapi pemerataan ekonomi ini yang wajib kita pertanyakan. 2 juta pengguna aplikasi Gojek dari mulai Mulyono 001 tentu harus lebih realistis. Apakah mereka sudah sejahtera? Jika para sarjana menjadi pengikut aplikasi ini, anggap saja bagian belajar, tapi kalau sarjana mentok ke driver ojek, Menteri Nadiem akan punya PR banyak.

Saya tetap mengatakan ke mahasiswa, menulis untuk gerakan sosial itu penting. Tanpa bisa menulis kita telah jauh dari alam pikiran para sarjana tahun 1930-1940. Mereka berbincang dengan tulisan, berjuang dengan tulisan dan menyatukan rakyat dengan tulisan. Tirto Adi Suryo, Tan Malaka, Soekarno, Hatta, dan lainnya tuntas melakukan itu. Kemudian Era Orde baru para teknokratis jebolan barat memang modern, tapi mereka penyumbang kerusakan alam.

Digital juga butuh konten, tapi jika isinya adalah eksploitasi buruh baru, prank youtube, tik tok, penikmat game, aplikasi unfaedah, kita harus sama-sama berjuang mengisinya dengan konten baik. Kawan @Robert Edy Sudarwan punya aplikasi GreadEdu, sejenis aplikasi Ruang Guru bedanya mempertemukan murid dan guru dengan minat belajar, kursus skill dan lain-lain. Saya sudah berdiskusi panjang lebar dengannya, apakah skill lokal bisa diajarkan lewat koneksi aplikasi? Dia jawab,”bisa”. Semoga dirinya bisa berjuang membuat para sarjana agar jadi Guru yang layak dihargai melalui aplikasi digital.

Para sarjana harus jadi penggerak, tidak boleh dia hanya jadi pekerja. Mereka harus belajar menulis, karena omongan tak cukup menampung gagasan. Mereka harus paham budaya, dan digital akan memantabkannya menjadi gerakan ekonomi kreatif. Para sarjana harus punya softskill dan hardskill jadi kelak mereka akan berkumpul dan bergotong-royong untuk perubahan dengan skill nya masing-masing. Apakah kemendikbud kita akan menuju ke sana atau terus menciptakan buruh-buruh digital?

Penulis : Dharma Setyawan (Kajur Ekonomi Syariah IAIN Metro Penggerak Pasar Yosomulyo Pelangi (Payungi)