KH. Abdullah Mas’ud : Sosok Sociopreneur NU yang Peduli dan Penggerak Perubahan

 27 total views

Madani-News.com – Terlahir dari keluarga sederhana, lingkungan pedesaan, dan pendidikan pesantren, menjadikan sosok Abdullah Masud sebagai sociopreneur sejati. Ia perihatin dengan kehidupan masyarakat yang banyak terjerembab dalam kemiskinan dan kebodohan. Itulah yang mendasari sosok kiai muda ini, bergerak melalui organisasi NU dan juga dunia usaha yang digelutinya berjuang untuk memberdayakan pemuda dan warga.

Di dunia usaha, sosok kiai muda kelahiran 10 April 1975 ini melakoni bisnis sejak usia belia. Mulai dari berjualan koran, buku, kartu nama, branding advertising, dan rumah makan. Kini, beliau mendirikan PT Santri Niaga Utama, Studio Santri Managemen, dan juga PT Paramuda Cahaya Musantara yang masih eksis melayani perjalanan haji dan umroh.

Spirit memberdayakan warga ia dapatkan dari pesantren dan juga meneladani sang kakek KH. Bisri Syansuri yang merupakan pendiri pesantren Denanyar Jombang dan penggerak Nahdlatul Ulama. KH. Abdullah Masud adalah suami dari Margaret Aliyatul Maimunah putri Ibu Hj. Lili Chodijah Aziz Bisri putri KH. Bisri Syansuri.

Usaha yang beliau lakukan tidak hanya mengutamakan profit tapi juga menitikberatkan pada pemberdayaan masyarakat dan juga kesejahteraan warga. Tampaknya, menjadi seorang sociopreneur adalah jalan hidup yang harus ia jalani. Beliau tidak semata-mata menjadi pengusaha untuk memperkaya dirinya sendiri, tapi juga menjadi pengusaha untuk mensejahterakan orang lain, dan membuat orang lain lebih bisa berdaya.

Misi pemberdayaan pemuda dan warga, beliau lakoni antara lain dengan cara menggerakkan organisasi NU dan juga lembaga-lembaganya supaya memberikan dampak perubahan sosial di masyarakat. Selain berperan sebagai bedahara umum di PCNU Kota Tangerang Selatan (2016-2020), beliau kini juga duduk di posisi yang sama di Lembaga Amil Zakat Infak dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama (lazisnu) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

Melalui LAZISNU, beliau membuat program-program pemberdayaan pemuda dan masyarakat yang berdampak langsung bagi kesejahteraan dan juga layanan pendidikan yang berkualitas. Di antara penerima manfaat dari program pembedayaan tersebut antara lain: anak yatim, keluarga prasejahtera, anak jalanan, janda miskin, jompo, santri kurang mampu, pesantren kecil, aktivis Nahdliyin, dan korban bencana serta korban sosial.

Supaya berkeadilan sosial dan terjadi pemerataan, beliau memperioritaskan gerakan di wilayah perioritas, yaitu pelosok, pinggiran kota, perkampungan kumuh, terindikasi 3T, daerah rentan radikalisasi, minim akses pendidikan, dan juga wilayah terdampak bencana.

Menurutnya, jika warga sudah berdaya secara ekonomi dan berpendidikan, tentu Indonesia bisa dengan mudah menjadi negara maju. Begitu pula dengan warga NU, harus siap dengan kebangkitan NU jilid dua. Kebangkitan pertama terjadi ketika NU dilahirkan KH Hasyim Asy’ari pada 1926. Kebangkitan kedua akan terjadi ketika NU berusia 100 tahun pada 2026, yang kondisinya berbarengan dengan kebangkitan Asia.

Agar kebangkitan kedua NU dapat berjalan dengan baik, menurut KH. Abdullah Masud, NU harus memperkuat pemberdayaan dan pelayanan kepada masyarakat, khususnya warga nahdliyin, dalam tiga bidang utama, yakni pendidikan yang berkualitas, jaminan kesehatan, dan kemandirian ekonomi.

Dari gerakan KH. Abdullah Masud, kita dapat meneladani bahwa yang terpenting untuk menjadi seorang sociopreneur adalah memiliki goals social mission, yaitu masalah apa yang mau diselesaikan dengan usaha atau bisnis yang dijalani. Misalnya, hari ini kita ingin menyelesaikan masalah ekonomi, lalu dengan bisnis yang kita bangun, kita bisa melahirkan profit yang bisa memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan kemandirian dan kesejahteraan. (*)