Kota, Pemilu & Literasi

Kota Metro – Semakin tinggi literasi, semakin tinggi inovasi. Saya kira hal penting di dalam memahami literasi yaitu tentang budaya literatus. Bahasa Latin, istilah literatus, artinya adalah orang yang belajar. Semakin berkembang teknologi orang belajar dengan banyak hal, dari awal mulai praktik, haus membaca dan terakhir diskusi, kini ditambah dengan media digital melalui media sosial berupa tulisan, gambar atau video.

Lalu bagaimana kota tetap mepertahankan karakter di tengah pragmatisme orang belajar untuk sekadar memperoleh kapital (materi)? Belajar bukan tentang dignity, bukan tentang harga diri, bukan tentang kerja kemanusiaan. Seharusnya kita belajar juga tentang membentuk etika, moral, nilai, wisdom, atau belajar tentang menahan diri untuk menjaga sekitar agar tidak semakin rusak. Budaya, agama, adat, pranata hukum, bukankah sudah banyak mengatur ini semua?

Pemilu 2024 sebentar lagi, dan ruang Demokrasi ini akan terlihat semakin brutal dengan fenomena demokrasi padat modal. Pesta 5 tahunan ini bisa mengorbankan apa saja demi jabatan kekuasaan. Sifat ngerem, menahan diri, tahu batas, dan membangun value sepertinya masih minim dilakukan. Hanya sedikit orang yang mau menjalankan peran gagasan, pengetahuan sampai level gerakan.

Seremonial, jargonis, huru hara baliho, kedermawanan an sich, gesekan akar rumput, politik uang, dan janji-janji 5 tahunan hari-hari ke depan akan sering kita dengar. Semua punya muara masing-masing, apakah perilaku kita sebagai individu tetap konsisten? Apakah calon bergerak organik, atau tetap tidak percaya diri tanpa politik uang. Sejatinya yang memilih dan dipilih pasti 1 frekuensi.

Pemilih berkualitas akan memilih orang-orang yang selama ini pikirannya layak untuk direnungkan, gagasannya layak untuk didengarkan, gerakannya pantas untuk di dukung. Selama yang dipilih dan memilih sama saja tidak punya narasi dan imajinasi, maka kota terjadi ritual yang terus berulang. Yang memilih dibayar diawal, yang dipilih mengambil hak yang harusnya diberikan ke rakyat. Cerita ini jauh di bawah level tentang pemberdayaan, karena mereka sama-sama diperdaya dan memperdayai sampai kita semua kehilangan daya.

Penulis : Dharma Setyawan (Penggerak Payungi)