Kuliah Inspiratif

Inspirasi Kuliah dari Seseorang Yang Bernama Dr Oki Hajiansyah Wahab. 5 tahun lalu saya bertemu dengannya dan dengan segala kerendahhatian. Kalau awal bertemu dia akan merendah serendah-rendahnya. Kalau sudah kenal lama, ya siap-siap kita akan saling membully. 😀 Kami lalu ngobrol ngalor-ngidol soal perkembangan komunitas di kota ini. Kalau ngobrol malam, siap-siaplah sampai pagi jam 04.00 baru selesai, kalau kuat bisa sampai azan subuh yang menghentikan.

Dunia bagi dia memang terbalik, siang jadi malam, dan malam jadi siang. Kami di komunitas cangkir kamisan diajarkan siap usul siap melaksanakan gagasan yang diusulkan. Kalau anda bergerak sama orang ini, kalau nggak kuat, ya capek dan pusing kepala. Kalau kuat ya minimal tambah progresif. Hal yang belum tentu saya dapati dari pola gerakannya adalah proses kreatif. Orang ini sedikit otoriter, tapi jika diajak berlari semuanya harus total, mandiri dan kreatif.

Komunitas seharusnya lahir dari kesadaran akal. Dibangun dengan kesadaran menghidupi dan bergerak saling melengkapi. Gagasan dan kritik dilemparkan sejadi-jadinya, tapi juga jangan lupa mendaratkannya dilapangan sosial. Proses ini yang menurut saya pentong dan saya dapatkan ketika mengenal beliau. Sekarang komunitas cangkir kamisan sudah dua tahun istirahat. Hanya diskusinya yang istirahat, tapi penggeraknya punya gerakan masing-masing. Anak-anak komunitas yang lain juga menyebar ke berbagai titik. Mereka juga mengerjakan masing-masing kegiatan dengan segala daya dan kreatifitasnya.

Sebagai pengajar di UM Metro, Dr Oki ini saya lihat makin sibuk. Menjelajah ke berbagai negeri dan terus menikmati akalnya yang cemerlang jika bercampur kopi. Kawan Rinaldi sudah jadi staff ahli Doktor Muda ini. 😊 Yang membuat saya takjub, kemarin beliau ngisi kajian keIslaman dosen-dosen UM Metro. Beliau bicara Era Post-Truth dimana orang hanya mengapresiasi kebenaran atas apa yang menjadi selera pilihan politiknya. Jamak kita melihat bahwa kaum intelektual di berbagai perguruan tinggi punya kecenderungan menjadi pembenar atas kelompoknya sendiri, atau membela secara membabi buta sesuai selera politiknya.

Dr Oki ternyata juga diminta mengajar di Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah. Nah sudah makin religiyes lagi kawan ini. Mungkin jika mengajar pagi begini, tadi malam tidak tidur. Hal menarik, beliau mengundang pakar-pakar di luar kampus untuk mengisi kuliah dan mengajak diskusi mahasiswa. Beliau undang Youtuber, Jurnalis dan entah siapa lagi nanti akan diundang. Kuliah sebaiknya demikian adanya, dan penting menyenangkan. Kuliah yang mendekatkan pengetahuan untuk tujuan perubahan. Dosen tidak superioritas dan semakin baik membangun pertemanan dengan mahasiswanya.

Belum lama saya mengritik dosen jurusan saya sendiri yang mengisi kuliah diawali dengan marah, di tengah marah dan diakhiri dengan marah. Lalu kuliah yang dipatok dengan standar seleranya sendiri, dan berujung pada nilai mayoritas mahasiswa E. Tahukah kita semua, bahwa kuliah di ruang kelas hanya dapat terserap pengetahuan 20%. Selebihnya 80% adalah budaya belajar, berkomunitas, terlibat dalam gerakan perubahan, praktik di lapangan, peningkatan skill, mendekatkan pembelajaran pada ruang-ruang sosial dan lain-lain.

Misal aplikasi digital hanya akan jadi perbincangan di ruang kelas, jika tidak diuji dilapangan sosial. Hukum akan menjadi aturan-aturan yang dihafal tapi tidak masuk ke relung sanubari. Ekonomi politik hanya akan jadi perbincangan dan kritik jika tidak didekatkan pada praktik-praktik gerakan sosial. Selain Dr Oki ada juga Dosen UM Metro Mas Kian Amboro. Dia mengajar pendidikan sejarah dengan cara-cara menyenangkan. Mengajak mahasiswa untuk belajar di luar kampus dan meneliti sejarah kota Metro dalam berbagai sudut pandang. Selain itu saya kira banyak dosen-dosen inspiratif di kota ini, yang membuat saya harus belajar banyak dengan mereka.

Begitulah seharusnya kuliah, kita tidak boleh merasa paling mahir. Kita harus mendengar para penggerak dan tokoh inspiratif untuk berbincang dan berpikir. Maka jangan heran, jika perubahan di luar kampus begitu cepat tapi perguruan tinggi baru sekedar membincangkannya. Jangan heran sekelas kampus UGM misal di demo orang-orang samin dan penggerak penolakan semen di kendeng Jawa Tengah karena ada dua dosen yang mendukung pabrik semen. Maka jangan heran jika ada perguruan tinggi masih banyak menghabiskan energi listrik, padahal orang sunda wiwitan sudah memakai panel surya. Disinilah kita sebagai kaum terdidik harus mau mengakui kekurangan dan kesalahan kemudian berjuang memperbaiki.

Kuliah harus memberikan inspirasi baru. Kampus adalah tempat apapun diperbincangkan. Kita harus memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada kita sendiri dan mahasiswa untuk meningkatkan pengetahuan dan melibatkan mereka pada agenda-agenda perubahan. Dan kepada Dr Oki, Dosen inspiratif di manapun, saya pribadi terus belajar. 🙏🙏🙏

Penulis : Dharma Setyawan (Dosen IAIN Metro dan Penggerak Pasar Yosomulyo Pelangi)