Lewat Diskusi 5 Pemuda Membentuk Perkumpulan

Madani-News.com – Metro- Lima Orang pemuda melakukan pertemuan di sebuah cafe di kota metro (21/02/2019), yang sudah di rencana jauh-jauh hari dalam pertemuan ini terkait diskusi serta masukan dalam ranah permasalahan sosial yang ada di lampung karna permasalahan sosial masih banyak yang harus di perhatikan.

Dengan ada pertemuan ini 5 pemuda ini yaitu Wahyu Prasetyo, Wahid, Fufu, Slamet Riyadidan Eko. Maka perwakilan meceritakan yaitu wahyu prasetyo memberikan cerita tentang seputar permasalahan sosial mulai dari kemiskinan, ketimpangan ekonomi, kesenjangan sosial, politik dan ekonomi. Maka 4 orang pemuda pun terlihat antusias untuk mendengarkan cerita yang disampaikan mas wahyu karna telah berpengalam dalam ranah sosial yang terjaring orangnisasi yaitu bernama NGO (Non Governmnet Organization).

Sekalia kawan-kawan bersepakat membentuk Nama Perkumpulan NGO Die Jugen Lampung yang artinya Pemuda Aktif Lampung.

Berangkat dari pengalaman pribadi Wahyu Prasetyo sebagai lulusan dari Pekerja Sosial Bandung melihat bagaimana sistem dan tatanan suatu negara berdampak pada kesejahteraan masyarakat yang menghasilkan kesenjangan sosial. Hal ini ditambah dengan adanya dominasi yang menguntungkan bagi kaum elit dan merugikan bagi kelas bawah maka dengan ada pertemuan ini maka saya akan mengajak kawan membuat suatu dobrakan agar permasalahan sosial bisa diatasi dengan baik serta terpenuhi target yang baik.

“Persoalan kesenjangan dapat dilihat dari adanya kesenjangan yang ditimbulkan oleh masyarakat tidak mampu masih banyak yang harus diperhatikan, karna di Indonesia misalnya, jumlah orang kayanya berada di kisaran 1200an yang tentu mendominasi dan begitu banyak yang belum mengerti akan pentingnya membantu untuk masyarakat tidak mampu”. Ujar penggiat diskusi Abdul Rohman Wahid.

M. Khoiri Furqon kemudian mengungkapkan terkait sembilan faktor yang dijadikan alat mengukur kesejahteraan sosial. Di antaranya tingkat kepercayaan, kesehatan, ekspektasi kehidupan obesitas, pendidikan anak, angka kelahiran, tingkat pembunuhan, tingkat narapidana dan mobilitas sosial.

Wahyu Prasetyo menjelaskan pengalamannya terkait program pembangunan seperti halnya program kemiskinan yang berkaitan dengan upaya-upaya bagaimana menyudutkan masyarakat dalam tatanan sosial. Karena darinya terdapat ketergantungan terhadap pemilik modal sehingga tidak ada kemandirian yang utuh dalam masyarakat.

Di tengah situasi Global yang tak menentu, persoalan yang terjadi dalam tatanan akar rumput juga memprihatinkan, persoalan mengenai kesenjangan sosial yang diakibatkan oleh berbagai permasalahan nampak begitu kompleks. Ketidaksetaraan kemudian menjadi dasar ketimpangan sosial yang hanya mengutamakan kebijakan yang pro kapital, berpihak pada modal ujar Wahyu Prasetyo kepada Madani-News.com.

Penulis : Eko.