Lili, Qaesar dan Sampah Plastik

Madani-News.com – Sekira satu pekan lalu selepas bersembahyang di masjid dekat rumah, kami bertiga, saya, Lili dan Qaeser pergi membeli aneka jajanan ke salah satu kawasan dengan mengendarai sepeda motor. Setibanya kembali kami di rumah, kami bertiga membongkar seluruh jajanan yang telah kami beli.

Saya mengawali pembicaraan seraya menunjukan kantung plastik pertama berisi satu gelas es kelapa, thai tea dan jus jeruk.

Lili sama Qaeser, ada berapa barang yang bakal jadi sampah? | Kantung plastik, gelas plastik, tutup gelas plastik sama sedotannya | Tadi harga es kelapa ini, berapa ya? | Lima ribu, Pah | Kalau kita punya uang lima ribu, bisa nggak yaa dipakai untuk ngabisin semua sampahnya ini sama kaya kita bakalan ngabisin es kelapanya? | Nggak bisa, Pah | Kalau gitu, gimana yaa caranya alam bisa ngabisin sampah plastik kaya gini? | Khan plastik susah rusaknya sama tanah, iya khan? | Tadi penjual es kelapanya bilang apa, waktu Papah tanya kenapa pakai gelas plastik? | Biar gampang katanya | Terus? | Gampang buat dia sama kita tapi nggak gampang buat tanah | Jadi? | Besok kalau beli es, kita bawa tempat sendiri aza dari rumahlah | Bukannya kalau gitu nanti jadi repot yaa? | Harus mau repot kalau buat tanah, kalau tanahnya rusak, kasihan cacing-cacingnya, nanti pada mati kepanasan, nggak dapet air, tanahnya nggak subur, tanaman nggak bisa tumbuh, gersang donk, panas donk nantinya. Repot sedikit nggak apa-apa, lama-lama biasa juga.

Diskusi yang mirip di atas juga sama terjadi, setelah saya mengeluarkan styrofoam pembungkus makanan tertentu.

Mereka berdua kemudian bertanya bagaimana caranya memberi tahu kepada para penjual atau pedagangnya. Saya sampaikan dengan contoh dan sikap berbeda dari yang lain dan nggak biasa, sama kaya Lili sama Qaeser waktu sering nolak dikasih kantung plastik belanjaan. Mudah-mudahan juga nanti mereka tanya, khan dari situ Lili sama Qaeser bisa bilang.

Penulis : Yerri Noer Kartiko