Mandat Ekologi Ekonomi Islam

Madani-News.com – Sebagai agama monoeistik yang muncul pasca adanya Kristen dan Yahudi, Islam sempat mengalami penolakan masif dari masyarakat mekah pada masa itu. Masyarakat Mekah pada waktu itu masih bersifat primordial, sehingga enggan menerima kepercayaan baru, meskipun itu adalah kebenaran.

Hingga akhirnya Nabi Muhammad SAW. Selaku manusia transenden yang diamanahi sebagai penegak Islam memutuskan untuk hijrah ke Madinah. Berbeda dengan di Mekah, Masyarakat Madinah lebih bersifat permisif atas kedatangan Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Hal tersebut tidak lain disebabkan oleh kejenuhan masyarakat madinah dengan konflik yang panjang antara orang kafir Arab degan Yahudi, masyarakat Madinah pada waktu itu merindukan sebuah rekonsiliasi.

Nabi Muhammad SAW. Datang dengan membawa Islam, dan nyatanya mampu untuk melerai konflik berkepanjangan tersebut, sehingga terjalin kehidupan yang lebih damai. Hal tersebut yang kemudian menyebabkan Masyarakat Madinah menerima dengan baik Islam masuk di Madinah. Sejak saat itu, Nabi Muhammad SAW. Menjadi pemimpin di Madinah, dan mengajarkan Islam kepada masyarakat hingga paham tentang Islam.

Tidak sampai disitu, Nabi Muhammad SAW. Akhirnya melakukan ekspansi terhadap kekuasaan islam, ke wilayah-wilayah lain di luar Madinah dan termasuk Mekah. Hingga pada akhirnya Nabi Muhammad berhasil menyatukan negara-negara arab dengan tali agama Islam. Sejak saat itu, Rasulullan mengatur agama-agama arab menggunakan regulasi-regulasi Islam yang bersumber dari Allah SWT. Sejak saat itu Islam mulai melancarkan segala aturan-aturannya yang kompleks, tidak hanya dalam satu bidang (Akidah), melainkan juga politik dan ekonomi.

Ekonomi sebagai salah satu cakupan yang termasuk kedalam territorial Islam, menjadika Al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber pemikiran perekonomian. Sebagai sumber pemikiran, keduanya (Al-Qur’an dan Sunnah) memiliki aturan yang komplit.

Al-Qur’an misalnya, dalam meregulasi pranata ekonomi, terdapat tiga hal. Tiga hal tersebut berupa justifikasi, penyempurnaan (pembolehan dengan sedikit revisi), pelarangan (pengharaman) secara total. Sesuatu yang bersifat justifikasi dari Al-Quran dalam pranata ekonomi adalah fakta tentang kejadian penyisihan sebagian harta dari orang-orang yang mampu, kemudian dipergunakan untuk kepentingan umum. Hal ini yang kemudian di dalam Al’Quran di-Justifikasi sebagai bentuk Infaq, Sodakoh dan Zakat.

Bentuk penyempurnaan (pembolehan dengan sedikit revisi) dapat terlihat saat A-Qur’an menata soal perdagangan. Jauh sebelum Al-Qur’an turun, budaya berdagang sudah lebih dulu dilakukan dan menjadi kebiasaan banyak masyarakat. Setelah Al-Qur’an turun, kebiasaan masyarakat non muslim tersebut tidaklah dilarang, tetap diperbolehkan dengan ketentuan-ketentuan baru, diantaranya adalah pelarangan Gharar, yang sebelumnya tidak ada.

Kemudian, pelarangan secara mutlak dalam pranata ekonomi adalah pelarangan riba. Al-Qur’an telah membedakan antara jual beli dan riba, dimana Islam menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba, meski sebagian golongan ada yang mengatakan sama antara riba dan jual-beli.

Ekonomi Islam juga menitipkan konsep ekologi dalam setiap aktivitas ekonomi. Hal tersebut tergambar dari filsafat dasar Ekonomi Islam. Dalam filsafat dasar ekonomi islam, ada ada sebuah konsep kesatuan (Tawhid), konsep kekhalifahan dan konsep free-will dan tanggung jawab.

Dalam konsep tawhid, manusia memiliki keyakinan bahwa Allah adalah maha esa dan maha kuasa atas segala sesuatu. Keyakinan tersebut dapat melahiran perasaan bahwa setiap yang di bumi adalah ciptaan Allah, dan kita sebagai manusia yang bertauhid sama sekali tidak boleh merusak secara semena-mena apa yang sudah Allah ciptakan. Dalam tindakan berekonomi yang dilakukan oleh individu atau kelompok tidak boleh merusak sumber kehidupan yang ada di alam dan tidak diperbolehkan dalam tindakan ekonomi yang dilakukan mengganggu kepentingan orang lain.

Dalam perspektif Islam, semua makhluk baik manusia ataupun bukan manusia semua memiliki hak yang sama atas bumi. Maka, menjaga kelestarian lingkungan dengan tidak merusaknya adalah suatu keniscayaan, demi menjaga hak-hak yang seharusnya diperoleh makhluk selain manusia. Menyalahgunakan sumber daya alam, eksploitatif terhadap alam merupakan hal yang dikutuk oleh Islam. Penganiayaan terhadap hewan dan tumbuhan untuk kepentingan perut dan kemewahan pribadi dan golongan juga merupakan hal terlarang.

Konsep kekhalifahan, manusia diciptakan sebagai khalifah di bumi, dan manusia adalah pusat dari segala sesuatu yang ada di bumi. Maksud dari manusia sebagai khalifah mengandung pengertian bahwa manusia adalah wakil dari Allah yang dipercaya untuk mengemban amanah untuk mengelola semua sumber daya alam dan sumber daya ekonomi yang ada di bumi. Al-Qur’an pun sudah menjelaskan bagaimana Allah menciptakan manusia sebagai khlifah dan bagaimana Allah menciptakan bumi dan seisinya, untuk kepentingan manusia.

Sebagai wakil Allah, manusia harus taat kepada regulasi Islam yang tertuang dalam Al-Qur’an dalam melakukan perbuatan di bumi. Apa yang dilakukan oleh manusia sebagai wakil, harus sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah sebagai pihak yang diwakili. Manusia tidak boleh memanfaatkan sumber daya ekonomi menurut nafsunya sendiri. Konsep kekhalifahan berimplikasi pada seluruh rangkaian kegiatan ekonomi, dari mulai produksi, konsumsi, pengembangan sumber daya hingga distribusi, semua harus dilakukan secara adil dan harus ada pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Free-Will merupakan konsep kebebasan memilih yang diberikan kepada manusia. Apakah manusia mau memilih jalan yang baik atau yang jahat. Dalam tataran kegiatan ekonomi, pilihan dibebankan kepada manusia, bukan kepada tuhan. Maka dari itu, setiap apa yang manusia pilih perlu juga dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Konsep Free-Will ini bersandingan dengan konsep tanggung jawab. konsep Free-Will dan tanggung jawab seperti halnya dua sisi mata uang, meski berbeda namun tidak bisa dipisahkan. Karena konsep tanggung jawab merupakan konsep yang berfungsi sebagai batasan terhadap kebebasan yang dimiliki oleh manusia.

Kebebasan yang dimiliki manusia tidaklah bersifat mutlak, tetap ada koridor-koridor yang perlu diperhatikan. Setiap sumber daya ekonomi yang dimiliki oleh manusia atas dasar kepemilikan perwalian, manusia harus melakukan pengelolaan sesuai dengan kontrak yang sudah ditetapkan. jika melakukan pelanggaran, maka pertanggungjawabannya langsung kepada Allah. Kebebasan manusia dalam sumber daya ekonomi hanyalah menyangkut kebebasan operasional, bukan berarti manusia bebas mengeksploitasi, bebas memperkaya diri tanpa memperhatikan makhluk atau manusia lain, bukan berarti manusia bebas membangun perusahaan-perusahaan besar tanpa memperhatikan kelestarian alam. Kebebasan manusia dalam memanfaatkan sumber daya ekonomi diatur dari dua sisi, yaitu dari sisi produksi harus menciptakan sebuah efisiensi, dan dari sisi distribusi harus menciptakan keadilan sosial. Jika dua hal ini tidak dicapai, berarti ada pelanggaran yang dilakukan oleh manusia dalam memanfaatkan sumber daya ekonomi.

Ketiga konsep yang ada dalam filsafat dasar ekonomi islam jika penulis simpulkan, selalu mengarah kepada perhatian terhadap kelestarian alam, mengarah kepada menjaga keseimbangan alam, menjaga hak-hak makhluk lain, tidak mengganggu kehidupan alam, itu semua dapat dirangkum dalam sebuah kata yang biasa kita sebut “Ekologi”.

Dari sini, barulah kita dapat menyimpulkan bagaimana tindakan ekonomi di Indonesia. Dimana perusahaan yang memproduksi air mineral mengakibatkan kekeringan dan kekurangan air bersih bagi sebagian masyarakat, bagaimana dengan perusahaan yang mengakibatkan sumber pangan hilang, bagaimana perusahaan besar yang menghasilkan limbah, sehingga sungai-sungai menjadi kotor, apakah perusahaan tersebut mampu mempertanggungjawabkan di hadapann Tuhan? Dan masihkah kita tenang-tenang saja dengan tindakan perekonomian seperti ini?

Penulis: WEPO