Mata Pisau Mengancam Indonesia

Madani-News.com – Petani di Pinggiran Kota Padang Sumatera Barat, hampir setiap pagi dan sore saya melihat aktifitas seperti ini, kebetulan di Kota Padang saya tinggal di rumah Uni Osnimar, perempuan kuat, yang menghidupi Tujuh anaknya dari bertani di tanah warisannya di pinggiran Kota Padang tepatnya di samping kantor TVRI Sumatera Barat yang merupakan jalan bypass ke Bandara Internasional Minang[BIM], di samping penghasilan suaminya sebagai sopir Bus lintas Sumatera-Jakarta.

Kesimpulan sederhana yang bisa saya ambil dari situasi petani yang sedang membajak sawah dengan Handtraktor, Pertama : rantai makanan masih bagus di Sumatera Barat khususnya di Kota Padang, tandanya sekilas dari burung Bangau yang tiap hari bergerombol cari makan di sawah-sawah terlebih saat tanah di bongkar, Kedua : industrialisai belum begitu masif.

Dari kesimpulan sederhana, berdasarkan melihat di permukaan saja memang belum begitu kuat, namun ada sekilas gambaran harapan untuk menjadikan pertanian sebagai basis industrialisasi Nasional dalam rangka Kedaukatan Pangan yang di awali dengan Reformasi Agraria dengan harapan terbukanya lapangan kerja, terpenuhinya kebutuhan pangan rakyat dan lingkungan yang tetap terjaga, terkendali.

Ada situasi dimana Reforma Agraria kita sekarang yang di canangkan oleh pemerihtah saya lihat belum maksimal, yang di tandai dengan meluasnya konflik agraria dan penyelesaiannya belum begitu jelas, namun berapa waktu terakhir pemerintah mengeluarkan kebijakan dengan membentuk Badah Pangan Nasional yang perannya antara lain : koordinasi, perumusan, dan penetapan kebijakan ketersediaan pangan, stabilisasi pasokan dan harga pangan, kerawanan pangan dan gizi, penganekaraganan konsumsi pangan, dan keamanan pangan, belum terlihat mengarah ke arah bagaimana membangun kedaulatan pangan, semoga saja Badan Pangan Nasional ini tidak di jadikan sebagai lembaga yang menyetempel impor pangan.

Semalam Presiden @jokowi membuat utas di twitter menyebutkan yang indah-indah seperti pembangian tanah, sertipikat, bantuan bibit, modal, semua itu akan di ukur dari tingkat nilai tukar petani/NTP, dimana NTP kita turun 0,11 % di bulan Juli 2021 sebesar 103,48 % dari Juni 2021 sebesar 103,59 % [BPS RI], penyampaian yang indah-indah itu bagai angin lalu karena secara hampir bersamaan ada terjadi kekerasan terhadap petani serperti di Sultra,Sulut,NTT yang bersumber dari konflik agraria, terus Sertipikat yang di bagikan itu seharusnya sebagai penanda konflik terselesaikan.

Selamat 61 Tahun Hari Tani Nasional, 24 September 2021 : konflik agraria dan kemiskinan, dua mata pisau yang mengancam kehidupan rakyat Indonesia sepanjang waktu, jika tidak di jadikan sebagai hal pokok yang harus di selesaikan sebelum mengerjakan yang lain.

Penulis : Ahmad Rifai (Ketum STN Pusat) Padang, 23 September 2021

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10209125382647949&id=1720819838