Media & Pemberdayaan

 

Revolusi 4.0 membawa perubahan signifikan pada pola pergerakan media. Di mana banyak media mengalami disrupsi dan transformasi dari analog ke digital. Pada era ini media-media yang mampu beradaptasi dan terus berinovasi akan tetap eksis, begitu juga sebaliknya.

Di Indonesia, terjadinya revolusi media dapat dilihat setelah lengsernya Orde Baru. Turunnya Soeharto mendorong media-media digital baru muncul — mengingat di era kepemimpinannya ruang gerak media sangat dibatasi. Bahkan media yang mengalami transformasi menjadi semakin terindustrialisasi. Di mana perusahaan-perusahaan media arus utama banyak yang terkonsentrasi di tangan segelintir elit.

Ross Tapsell dalam buku ‘Kuasa Media di Indonesia’, melihat bahwa telah terjadi konglomerasi media baik secara vertikal maupun horizontal di Indonesia. Setidaknya saat ini terdapat delapan media besar yang dikuasai oleh para konglomerat digital, meliputi Trans Corp (Chairul Tanjung), MNC (Hary Tanoesoedibjo), SCMA Group (Eddy Sariaatmadja), Berita Satu (James Riady), Kompas Group (Jacob Oetama), VisiMedia Asia (Aburizal Bakrie), Jawa Pos Group (Dahlan Iskan), dan Media Televisi Indonesia (Surya Paloh).

Munculnya konglomerasi media di Indonesia turut mendorong arah pemberitaan yang muncul di media, terutama media digital. Terlebih menurut Ross Tapsell pemilik media-media punya kecenderungan untuk mengamankan bisnisnya, berpengaruh dikancah politik (pemerintah) dan membangun dinasti di dalam perusahaan. Dapat diingat, ketika pemilihan presiden tahun 2014 terdapat dua kubu media yang satu mendukung Jokowi dan lain kubu mendukung Prabowo.

Hadirnya media digital di era digitalisasi saat ini sangatlah berpengaruh di banyak sektor, baik politik, ekonomi (bisnis), sosial, komunikasi dan lainnya. Dalam sektor ekonomi, selain untuk menguatkan aktivitas bisnis, media juga dapat digunakan untuk mendorong tumbuhnya gerakan-gerakan gotongroyong pemberdayaan di tengah masyarakat. Adanya peran media digital, tentu dapat memberikan power bagi gerakan kolektif ini untuk bisa berkembang dan berkontribusi dalam menguatkan ekonomi masyarakat kecil.

Kesadaran dalam memanfaatkan media digital harus terus dipupuk. Pasalnya, sebagian besar masyarakat saat ini tidak bisa lepas dari penggunaan gawai dan media digital. Survei dari Hootsuite (We are Social) 2022, di Indonesia tercatat perangkat mobile yang terhubung mencapai 370,1 juta (lebih banyak daripada penduduk Indonesia) dengan penggunaan media sosial aktif sebesar 191,4 juta. Dan, penggunaan media sosial ini didominasi oleh usia 18-34 tahun. Artinya, ada pangsa yang besar di ruang media digital untuk mempromosikan potensi yang digerakkan oleh masyarakat.

‘Gerakan tanpa media, Nothing’. Upaya-upaya pemberdayaan yang dilakukan oleh masyarakat harus mampu dipromosikan melalui kanal-kanal media digital. Adanya Website, Facebook, Instagram, Tiktok dan Whatsapp mestinya digunakan untuk mengenal berbagai produk yang dibuat oleh mereka. Apalagi terdapat motif ekonomi dari masyarakat yang dilakukan dengan menggerakkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Adanya kolaborasi dengan media tentu akan semakin mempercepat penumbuhan kemandirian ekonomi mereka.

Kini, sudah saatnya masyarakat mulai beradaptasi dengan era digital. Sebab, transformasi tidak terbatas hanya terjadi pada pola pergerakan media saja, namun gerakan-gerakan pemberdayaan pun juga harus mampu mengikuti arus perubahan. Agar potensi masyarakat tetap bisa digali dan tidak terdisrupsi oleh perkembangan zaman. Gerakan kolektif menjadi yang paling memungkinkan untuk dilakukan oleh masyarakat kecil (ekonomi ke bawah), untuk bersama-sama meningkatkan kondisi ekonominya di tengah-tengah semakin masifnya persaingan bisnis.

Mustika Edi Santosa