Melumpuhkan Pesona Rasionalitas Kapitalis

Karel Kosik, seorang filsuf Marxis yang menginginkan sebuah Pseudo-Konkret menjadi Totalitas Konkret. Kosik berpandangan bahwa, sesuatu hal terlihat seperti rasional karena setiap unsur-unsur yang ada didalamnya berjalan dengan lancar dan baik. Walaupun sebenarnya, dibalik kelancaran dan keberhasilan tersebut sama sekali tidak rasional alias irasional.

Kapitalis misalnya, sistem ekonomi kapitalis memang terlihat lancar dan baik. Bahkan, usaha-usaha kapitalis terlihat seperti kemegahan dan keberhasilan yang hakiki, padahal didalamnya mengandung irasionalitas, tidak manusiawi. kapitalis tidak memandang bagaimana hubungan antar manusia, melainkan hubungan antara manusia dengan benda, atau hubungan manusia dengan faktor-faktor ekonomi.

Kosik sebenarnya ingin membuang pesona rasionalitas yang selama ini sudah melekat pada masyarakat kapitalis. Dengan cara diantaranya memandang sebuah sistem kapitalis tidak hanya secara sinkronis (melihat keberhasilan dan kelancaran sistem) melainkan secara diakronis (lebih mendalam dan lebih detail masuk ke sebuah sistem). Karena Kosik sadar bahwa sebenarnya, kapitalis adalah irasional dan tidak manusiawi. Hanya saja, semua itu tersembunyi di balik  kelancaran dan keberhasilan perekonomian kapitalis. Kesan lancar dan rasional itulah yang membuat kapitalis terus berkembang.

Filosof Kosik berpandangan bahwa kesan tidak pernah terlepas dari hakikat. Kepiawaian masyarakat kapitalis dalam membuat kesan, kini semakin membuatnya berhasil duduk di hakikat  yang dipercaya berkuasa. Walaupun sebenarnya kesan itu bukanlah suatu kebenaran. Filsafat ini berusaha untuk menembus sebuah kesan sehingga sampai ke sebuah kebenaran, melihat dari kesan, membongkar realitas yang terjadi di dalam kapitalis untuk memperbaiki sebuah hakikat.

Pseudo-konkret yang terfetisisasi kini menjelma menjadi sebuah sistem yang kuat dan kokoh dan seolah-olah sulit untuk tersaingi apalagi diruntuhkan. Bahkan, bukan tidak mungkin, masyarakat bawah, jika dalam bahasa filsuf biasa disebut (Proletar, Marhaen dan buruh) juga ikut menggantungkan hidupnya kepada realitas rasional yang pseudo tersebut. Parahnya, mereka tidak menyadari bahwa sistem kapitalis yang memberikan rasionalitas pseudo tersebut bersifat reifikasi.

Masyarakat bawah tidak menyadari bahwa keberadaan kapitalis secara perlahan mengambil pasar mereka dengan cara-cara yang halus dan seolah-olah tidak merugikan. Memang harus begitu, karena kapitalis adalah musuh bagi para buruh dan masyarakat bawah. Sehingga, masyarakat bawah dan kaum tertindas pula yang akan mengaktifkan sebuah destruktif yang sudah kapitalis bangun sendiri secara tidak sadar.

Apakah kelancaran dan keberhasilan kapitalis yang irasional tidak bisa diberhentikan? Tentu bisa dan sangat bisa. Namun, untuk bisa memberhentikanya harus menunggu mereka, para masyarakat bawah dan tertindas secara sendirinya sadar bahwa mereka membutuhkan pemberhentian sistem kapitalis tersebut. Namun, sebelum mereka menyadari itu, maka kapitalis tidak akan pernah berhenti.

Sebenarnya, masyarakat bawah dan tertindas sudah membutuhkan pemberhentian sistem kapitalis yang irasional, namun apa yang mereka butuhkan belum mereka sadari, sehingga belum bisa dilakukan. Memang begitu, pihak yang sudah sadar dan sudah mengerti harus menunggu mereka yang belum mengerti. jika semua sudah mengerti maka massa akan bergerak  seperti roda gigi yang mampu memutar mesin besar dan melindas semua unsur kapitalis yang irasional.

Masyarakat bawah dan kaum tertindas memang harus sadar untuk menciptakan produknya sendiri, menciptakan Place nya sendiri dan menjaring Market nya sendiri. Kapitalis yang irasional sebenarnya juga menggantungkan hidup kepada masyarakat yang mayoritas. Kenapa masyarakat yang mayoritas mau untuk terus mendukung keberlangsungan kapitalis yang irasional? Karena masyarakat mayoritas belum sadar, mereka hanya melihat secara kasat mata Place yang sudah disediakan, tanpa mendetail melihat bagaimana sistem yang dilakoni kapitalis.

Hashtag “Ayo Belanja Di Warung Sebelah” ini juga merupakan persuasif sederhana dan ajakan kecil-kecilan untuk kemudian mendukung usaha masyarakat bawah dan kaum tertindas, dan tidak lagi banyak belanja di place-place kapitalis. Dengan memahami “Ayo Belanja Di Warung Sebelah” bahwa sebenarnya, masyarakat bawah dan kaum tertindas mengerti akan pentingnya sistem perekonomian yang berasal dari bawah, bukan dari borjuis-kapitalis.

Mudahnya melumpuhkan pesona rasionalitas kapitalis, semua itu tinggal menunggu kesadaran masyarakat bawah dan kaum tertindas untuk mau belanja di warung sebelah, menciptakan produksi sendiri, menciptakan tempat sendiri, selanjutnya menyadarkan masyarakat mayoritas untuk terus mau dekat dengan warung-warung warga, dan perlehan-lahan angkat kaki dari Place yang sudah disediakan borjuis-kapitalis. (WEPO)