Melunasi Janji Kemerdekaan: Generasi Z Penyambung Lidah Rakyat di Era Disrupsi

Penulis: M Hafiz Al Habsy (Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara-UNP)

PADANG – Sekitar dua minggu yang lalu, tepatnya 17 Agustus kita memperingati kemerdekaan Republik Indonesia. Gaungan peringatan kemerdekaan yang ke 76 tampaknya memaksa kita untuk kembali merefleksikan dan mengadvokasikan keadaan negeri saat ini. Mulai dari aspek ekonomi, pendidikan, pelemahan KPK, hingga kritik dalam demokrasi yang saat ini penuh dengan pembungkaman, seperti halnya penghapusan mural wajah presiden Jokowi, ataupun yang bertuliskan Tuhan Aku Lapar.

Keadaan seperti inilah yang mestinya di evaluasi secara berkala, salah satunya di momen peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia. Sebenarnya kemerdekaan telah menjadi potensi terbaik dalam mewujudkan cita-cita bangsa, namun pemanfaatan kemerdekaan melalui pengelolaan pemerintahan belum mampu mewujudkan harapan segenap rakyat Indonesia.

Di era disrupsi saat ini, atau era yang tengah mengalami perubahan sangat pesat, terlebih lagi dengan adanya dampak pandemi telah menyulitkan masyarakat untuk mengisi pos kritis di negeri ini. Oleh sebab itu, butuh penegasan terhadap aktor yang akan mengisi pos kritis ataupun penyambung lidah rakyat di era disrupsi demi melunasi janji kemerdekaan.

Demi melunasi janji kemerdekaan di Era Disrupsi saat ini, sudah semestinya generasi Z meneguhkan peran sebagai penyambung lidah rakyat. Generasi Z ini jika di artikan sebatas klaster generasi, maka generasi Z adalah mereka yang lahir dalam rentang waktu tahun 1996 hingga 2010, namun pengertian ini tampaknya belum cukup akurat.
Selanjutnya dengan melihat ciri-cirinya, maka generasi Z identik dengan kemudahan (digitalisasi), dalam artian memiliki fasilitas yang baik sehingga mudah untuk berkolaborasi dengan sesama generasi Z maupun kemudahaan dalam aktivitas-aktivitas lainnya. Namun lagi-lagi definisi ini terasa masih belum cukup memberikan dikotomi dan penegasan yang jelas dalam penentuan generasi Z sesungguhnya.

Ketika generasi Z di artikan dalam pengertian klaster generasi, maka kita juga temukan klaster generasi tersebut yang tidak memperoleh kemudahan, salah satunya mereka yang terlahir di daerah 3T. Sebaliknya, apabila di artikan sebagai generasi yang memperoleh kemudahan fasilitas, maka banyak juga klaster generasi lain yang memperoleh hal tersebut.
Maka dari itu, dalam meneguhkan peranannya sebagai penyambung lidah rakyat, generasi Z harus mampu mendefinisikan dirinya sendiri dalam bentuk aktualisasi diri dengan ciri-ciri peka, rasional dan berani. Hal inilah nantinya yang akan meneguhkan posisi generasi Z sebagai penyambung lidah rakyat dan juga sebagai golden generation 2045.

Kemudian timbul pertanyaan kenapa generasi Z mesti mengambil peran sebagai pengisi pos kritis yang tersisa di negeri ini? Maka jawabannya ialah karena yang menjadi penghalang dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan adalah pengelolaan pemerintahan. Sebab kemerdekaan sebagai kebebasan telah memberikan segala potensi yang ada untuk dikelola oleh bangsa sendiri, namun cita-cita kemerdekaan belum juga terwujud, maka generasi Z perlu mengontrol jalannya roda pemerintahan.
Terlebih lagi saat ini krisis tengah menghampiri hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat, namun ruang berekspresi dikebiri oleh pemerintah.
Sebagaimana penghapusan mural tadi, “tuhan aku lapar” seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah untuk memastikan rakyatnya terpenuhi kebutuhan pangannya, bukan malahan menghapus mural tersebut.

Maka dari itu pos kritis harus tetap di isi, di era disrupsi saat ini, generasi Z lah yang memiliki potensi untuk mengisi pos kritis yang tersisa di negeri ini. Sebagaimana generasi Z dilahirkan dalam rentang waktu 1996 hingga 2010 yang merupakan era perkembangan teknologi digitalisasi sehingga generasi Z akan mudah beradaptasi dengan kondisi saat ini.
Modal dalam mengisi pos kritis bukan sekedar kemudahan fasilitas, tetapi generasi Z juga mesti membekali diri dengan tiga ciri-ciri tadi yakni, peka, rasional dan berani. Peka berarti sadar akan fenomena yang ada, kemudian rasional dalam artian memiliki kajian akademik atau tuntutan yang logis dengan merefleksikan pada fenomena yang ada dan terakhir keberanian sebagai mesin yang akan menjalankan dua hal tadi.

Artinya ketiga hal tadi mesti dimiliki generasi Z dalam mengisi pos kritis, namun begitu, masih ada masalah lain yang akan menjadi rintangan generasi Z dalam menajalankan peranannya. Dimana di era disrupsi secara otomatis kuantitas dari pergerakan pengisian pos kritis akan mengalami penurunan, hingga dikhawatirkan pergerakan tadi di pandang sebelah mata.
Memang, semenjak dahulu kualitas dan kuantitas selalu menjadi modal utama dalam sebuah pergerakan, sebagaimana reformasi tahun 1998. Namun saat ini, aktivitas mulai di alihkan melalui platform online seperti halnya perkuliahan daring, bekerja dari rumah dan lain sebagainya. Sehingga secara jelas telah menjadi faktor penyebab adanya penurunan kuantitas pergerakan, namun hal ini tidak berlaku untuk kualitas pergerakan.

Selain itu, turunnya kuantitas pergerakan juga disebabkan oleh sikap pemerintah yang terkesan mengabaikan, bahkan membungkam ekspresi masyarakat. Sebagai contoh pengabaian yang dilakukan pemerintah dapat kita lihat pada kasus pelemahan KPK, dimana tahun 2019 ada penolakan terhadap revisi UU KPK melalui aksi demonstrasi besar-besaran, namun nyatanya masyarakat diberi pedih dengan ditetapkannya Revisi UU KPK tadi.

Kemudian resonansi komunikasi pemerintah yang justru menghadirkan sentiment kepada mahasiswa dan seluruh demonstrasi saat itu juga memberikan pedih. Hal-hal semacam ini tentunya akan berdampak buruk terhadap sikologis masyarakat dalam berdemokrasi, dimana akan muncul pesimistis dalam setiap pergerakan yang ada kedepannya.
Maka dari itu, untuk saat ini indikator pergerakan generasi Z dalam mengisi pos kritis tidak hanya sekedar kualitas dan kuantitas. Tetapi pergerakan di era disrupsi saat ini juga harus disertai kreatifitas sebagai penyokong rasionalitas tuntutan nantinya. Tidak dapat dipungkiri kreatifitas akan sangat menentukan ekspansi pergerakan di era disrupsi.

Kembali mengingat peristiwa labeling the king off lip service beberapa waktu lalu, sebenarnya secara kuantitas pergerakan ini tidak begitu besar, tetapi labeling tersebut memiliki kualitas dalam rasionalitasnya yang di sokong oleh magis kreatifitas di dalamnya. Hingga dapat kita lihat dengan sendirinya ekspansi pengisian pos kritis meningkat secara signifikan.
Bukan tanpa alasan, peranan generasi Z dalam hal ini sangat krusial adanya, sebagaimana begitu banyak permasalahan yang kian hari bermunculan. Lord Acton pernah mengatakan bahwa seseorang yang memegang kekuasaan akan cenderung menyalahgunakan kekuasaan itu, oleh sebab itulah pos kritis atau estafet perjuangan harus selalu di isi.
Terlebih lagi di waktu 24 tahun menjelang usia satu abad Republik Indonesia, namun pertanda tercapainya cita-cita kemerdekaan yang digadang-gadang terwujud di tahun 2045 tak kunjung terlihat.

Maka dari itu, generasi Z saat ini harus dimaksimalkan dan juga memaksimalkan potensinya di era disrupsi saat ini.
Dengan kehadiran generasi Z di era disrupsi ini menjadi harapan dari janji kemerdekaan, semoga trend kemerosotan tidak lagi terjadi kedepannya. Dan satu hal yang perlu di pahami oleh segenap generasi Z bahwa perjuangan itu ibarat menanam pohon kurma, meskipun saat ini kita tidak memetik buahnya, namun suatu saat akan ada orang yang memetik di masa depan, artinya perjuangan merupakan sebuah kebermanfaaan. (Red/M.H/Habil)