Mencintai Rasul dan Ahlul bait-nya Lewat MPR Way Kanan

Diinisiasi oleh tiga orang ustadz Kampung. nampaknya Majelis Pecinta Rasulullah SAW Way Kanan atau biasa disingkat MPR Way Kanan yang saat ini telah menginjak usia 5 tahun kini mulai dikenal dan diminati umat muslim Way Kanan khususnya para remaja. Nama MPR Way Kanan sendiri di berikan langsung oleh ahlul bait Rasulullah SAW, Habib Abdurrahman bin Hasan Al-Haddad pimpinan MPR Lampung sekaligus pembina MPR Way Kanan. dalam aktivitasnya, setengah dekade perjalanan MPR Way Kanan membumikan shalawat di kabupaten way kanan, meski tak mudah merealisasikannya namun nampaknya karakter keistiqomahan selalu melekat pada diri para pengurus dan jamaahnya.

Rutinan dari MPR Way Kanan sendiri dilakukan setiap seminggu sekali tepatnya di malam sabtu ba’da isya. dalam aktivitas rutinanya bukan hanya pembacaan sholawat maulid simtudduror, saat dimulainya pembacaan sholawat dan maulid simtudduror selalu diselipkan dengan kajian-kajian tentang sejarah Rasulullah SAW, untuk mengenal secara menyeluruh sosok kemuliaan dan keagunganya, dengan mengenalnya niscaya akan bangkit kecintaan kepada Rasulullah SAW dan Ahlul bait-nya.

Rasulullah SAW Teladan Terbaik

Tidak ditemukan dalam al-Quran seorang pun yang dijuluki dengan Rahmat, kecuali Rasulullah Muhammad SAW, dan tidak juga satu pun makhluk yang disifati dengan sifat Allah ar-Rahim, kecuali Rasulullah Muhammad SAW.

Nabi Muhammad SAW diutus oleh Allah SWT sebagai bentuk rahmat dan rasa kasih sayang, karunia, dan nikmat yang diberikan kepada makhluk-nya di seluruh alam semesta (rahmatan lil alamin). Rahmatan lil alamin menunjukkan bahwa kehadiran Rasulullah SAW di tengah kehidupan masyarakat mewujudkan rasa kedamaian dan ketentraman bagi alam semesta dan manusia tanpa membedakan agama, suku, dan ras. Rasulullah SAW sendiri menjadi rahmat bagi semesta, termasuk di dalamnya adalah hewan, tumbuhan, dan lingkungan. Hal ini sesuai dengan apa yang terkandung dalam Qur’an surat Al-Anbiya ayat 107, yaitu:

Artinya: “Dan tiadalah kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”

Dalam tafsir al-Mishbah karya monumental M. Quraish Shihab meski redaksi QS. Al-Anbiya’ (21) ayat 107 itu sangat singkat tetapi mengandung makna yang sangat luas. Hanya dengan 5 kata yang terdiri dari 25 huruf, termasuk huruf penghubung, ayat ini merangkum empat hal pokok, yaitu:

1). Rasul/utusan Allah, dalam hal ini Nabi Muhammad SAW; 2). yang mengutus beliau dalam hal ini Allah SWT; 3). yang diutus kepada mereka (al-alamiin); dan 4). risalah, yang kesemuanya mengisyaratkan sifat-sifatnya, yakni rahmat yang sifatnya sangat besar sebagaimana dipahami dari bentuk nakirah dari kata tersebut.

Istimewanya, kehadiran Rasulallah SAW adalah sebuah kesemestaan yang mengatasi waktu dan tempat, karena bukan saja membawa ajaran, tapi lebih jauh adalah rahmat yang dianugerahkan Allah SWT. Ayat ini tidak menyatakan bahwa: Kami tidak mengutus engkau (Hai Muhammad) untuk membawa rahmat, tetapi sebagai rahmat atau menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Terdapat empat sifat ketauladanan yang dimiliki Nabi Muhammad SAW yang harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu Siddik (jujur), Amanah (dapat dipercaya), Tabliq (menyiarkan), dan Fathanah (cerdas). Sifat ini menjadi dasar kepribadian yang dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW yang menjadikannya figur utama dengan segala nilai kebaikan dan egaliter dalam bersosialisasi.

Definisi Ahlul Bait Rasulullah SAW

Ahlul Bait‘, menurut bahasa Arab berarti tuan rumah, penghuni rumah, atau anggota keluarga yang berbeda di dalam rumah. Keutamaan bahasa Arab dalam mengartikan sebuah kalimat begitu luas, sehingga arti dan makna kalimat Ahlul Bait tidak hanya sebatas memiliki arti “tuan rumah”, “penghuni rumah”, ataupun”, anggota keluarga yang berada didalam rumah”. dalam kaitannya dengan kalimat Ahlul Bait, Allah SWT telah menegaskan, bahwa yang dimaksud dengan Ahlul Bait adalah Rasulullah SAW, dan keluarganya, yang seluruhnya berjumlah 5 (lima) orang. Yakni Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib, Fatimah Az Zahra, Al-Hasan dan Al-Husein.

Alasan Ahlul Bait itu adalah keluarga Rasulullah SAW seperti yang dimaksud diatas, diperoleh menurut mayorits pandangan para Ulama, mereka mengatakan, bahwa Ahlul Bait adalah keluarga Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib, Fatimah Azahra, Al-Hasan dan Al-Husein. Imam Muslim r.a. dalam kitabnya Shahih Muslim, bab Fadha’il Ahlul Bait menguraikan, bahwa yang dimaksud diatas. Hal senada juga diungkapkan oleh Imam Ibnu Hajar dalam kitabnya Ashwa’iqul Muhriqah, bab fadha’il Ahlul Bait.

Sementara Imam Sayuthi mengetengahkan dalam kitabnya Ad Duruf Mantsur bahwa yang dimaksud dengan Ahlul Bait adalah kelima orang yang tersebut diatas. dalam kitab tafsir Al mizan, Allamah Sayyid Muhammad At Thabathaba’i pun mengatakan hal serupa. begitu pula dengan Imam Fakhrur Razid dalam kitab tafsirnya. Al Imam Nisabury, Al Imam lbnu Jarir, Al lmamAbu Sa’ id Al Khudary, Al Imam Al Baghwy, Al Imam Ibnu Khazin, dan beberapa Ulama-ulama lain yang ternyata memiliki pemikiran yang sama.

Kisah mengenai Ahlul Bait dan siapa saja Ahlul Bait, diawali oleh turunya dekrit agung Allah SWT atau dikenal dengan ayat At Thathir :

Artinya: “Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan noda dan kotoran dari kalian wahai Ahlul Bait dan mensucikan kalian sesuci-sucinya.”Q.S.At Ahzab : 33

turunnya ayat At Thathir, pada akhirnya memunculkan banyak versi penafsiran dari kalangan Ulama, penyebab turunnya ayat Asbabun Nuzul, dan untuk siapa ayat tersebut diturunkan. Namun kebanyakan versi meriwayatkan, bahwa ayat itu turun dirumah salah satu istri Rasulullah bernama Ummu Salanmh r.a. diriwayatkan dari Imam Ahmad, sebuah Hadits dari Ummu Salamah r.a. Ummu Salamah mengatakan:

“Di rumahku turun ayat Innama yuridullahu” (yaitu surat Al Ahzab : 33) saat itu (dirumahku) terdapat Rasulullah SAW, Ali, Fathimah, Hasan, dan Husein. Kemudian Rasulullah SAW menutupi mereka dengan kain yang tengah dipakainya sambil berkata: “Mereka ini adalah Ahlul Baitku. Allah telah menghapuskan noda dan kotoran dari mereka dan telah mensucikan mereka.”

Kemudian hadits ini dikenal dengan nama Hadits Kisa’. Sebagian riwayat lain menuturkan, ketika itu Rasulullah SAW juga membaca do’a untuk Ahlul Baitnya. Do’a tersebut berbunyi :

Artinya: “Ya Allah, mereka ini adalah Ahlul Baitku. Karena itu hilangkanlah noda dan kotoran (Ar Rijs) dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya.”

Misteri maksud ayat At Thathir sebenarnya telah dikuak oleh Rasulullah SAW sendiri, Iewat hadits-hadits yang telah banyak dibukukan dalam ribuan judul kitab. Permasalahan pun semakin melebar, tatkala Rasulullah SAW menyebutkan untuk siapa ayat tersebut diturunkan, mengingat yang dimaksud Ahlul Bait adalah keluarga beliau sendiri. Hingga rentan muncul persepsi, Rasulullah SAW akan mendirikan sebuah monarki, Islam adalah agama dinasti. Hal itu mungkin dapat dibenarkan, seandainya Muhammad Bin Abdullah itu bukan seorang Rasul. Namun pada kenyataannya, beliau adalah seorang duta dari langit, yang tiap perkataannya bukan berdasarkan hawa nafsu, melainkan firman yang diwahyukan kepadanya. Dalam Al qur’an, Allah SWT berfirman:

Artinya: “Sahabat kalian (yakni Muhammad SAW) tidak sesat dan tidak pernah keliru. Ia tidak mengucapkan sesuatu menurut hawa nafsunya. Apa yang diucapkannya adalah wahyu, yang Allah wahyukan kepadanya.” (Q.S.An Najm: 2-4)

dengan demikian, cukup gamblang, bahwa yang dimaksud dengan Ahlul Bait itu adalah keluarga Rasulullah yang berjumlah 5 (lima) orang, yaitu Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib, Fatimah Az Zahra, Hasan dan Husein. Kelima orang ini, manusia-manusia yang sengaja dipilih Allah SWT sebagai manusia yang paling beriman, paling bertaqwa, yang tercermin dalam perilaku mereka sehari-hari.

Mencintai Ahlul Bait Rasulullah SAW

Sebagai salah satu tinggalan Nabi Muhammad SAW untuk umatnya, keturunannya sudah selayaknya mendapat penghormatan dan rasa cinta seperti yang beliau terima. Sebagaimana anjuran dari sahabat Rasulullah SAW, Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq mengatakan, “Cintailah Muhammad SAW melalui cinta kepada para keturunannya (Ahlul Bait).”

Lebih lanjutnya, perintah terkait Ahlul Bait ini kemudian dijelaskan sebagai salah satu dari dua hal yang mesti dipegang teguh oleh umat Rasulullah. Dari Abi Said al-Khudri ia berkata, Rasulullah SAW bersabda.

Artinya: ”Sesungguhnya aku tinggalkan untuk kalian dua wasiat, Kitabullah Al-Qur’an dan keluargaku (ahlul bait).” (HR at-Tirmidzi).

Tak hanya itu, Al-Qur’an melalui surah Asy-Syura ayat 23 pun mengatur perintah untuk mencintai Ahlul Bait. Dalam ayat tersebut disebutkan, “Katakanlah (wahai Muhammad): Aku tidak meminta upah kepada kalian kecuali rasa cinta kepada kerabatku,” Dalam tafsir disebutkan bahwa yang dimaksud kerabat disini adalah Ahlul Bait. Dengan demikian, jelas perintah memuliakan dan mencintai Ahlul Bait merupakan perintah langsung dari Allah SWT yang wajib dipatuhi.

Namun, meski telah kuat dasar perintahnya, masih saja terdapat hati yang tidak dapat menerima perintah tersebut. Mereka yang demikian, berpandangan bahwa semua manusia sejatinya sama di hadapan Allah SWT, hanya amal dan takwalah yang membedakannya. Ungkapan tersebut tidaklah keliru, karena asal-muasalnya juga bersumber dari Al-Qur’an. Namun sebenarnya, tanggapan seperti ini tidak berada di konteks yang tepat. Sebab, konteks menghormati Ahlul Bait adalah konsep sosial, hubungan manusia dengan manusia. Bagaimana urusan mereka dengan Allah SWT, adalah urusan yang bukan ranahnya untuk kita campuri.

Sebab konsep menghormati Ahlul Bait ini adalah konsep sosial, mari bersama-sama kita analogikan dengan fenomena sosial lain. sebagaimana yang kita tahu, dalam bermasyarakat, seseorang memiliki kedudukan tertentu. Kedudukan yang ia miliki mempengaruhi sikap dan kewajibannya terhadap seseorang di kedudukan yang berbeda. seperti contoh, misalanya seorang murid secara sosial wajib menghormati guru dan orang tuanya. Hal ini merupakan fitrah manusia, untuk menghormati seseorang dengan kedudukan tertentu, tanpa menyangkut pautkan hubungan mereka dengan Tuhannya.

Konsep inilah yang terjadi pada kewajiban menghormati Ahlul Bait. Sebagaimana seorang anak yang harus menerima takdirnya sebagai seorang anak dan murid, muslim ahwal (bukan Ahlul Bait) juga harus menerima takdirnya sebagai manusia yang bukan dari golongan Ahlul Bait. Penerimaan ini bukan hanya menerima nasib diri sendiri, namun juga menerima kewajiban yang ditangguhkan untuk menghormati Ahlul Bait. Sekali lagi, posisi Ahlul Bait dalam kehidupan sehari-hari tidak berbeda seperti adanya orang tua atau guru yang kita hormati. Kita tidak pernah berharap dilahirkan di tahun tertentu, namun takdir membawa kita untuk menghormati orang yang lahir di tahun sebelum kita lahir.

Mesti digarisbawahi pula, pemuliaan terhadap Ahlul Bait ini jangan lantas dijadikan alasan untuk merendahkan mereka yang ahwal. Sebab para Ahlul Bait sendiri tidak dididik untuk gila akan sikap hormat dari para pecintanya (muhibbin). Sebagaimana yang dicontohkan oleh salah satu kakek moyang Ahlul Bait, Sayyidina Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali, dimana ia tidak pernah menaruh rasa benci kepada Umar bin Sa’ad, pembunuh ayahnya di Padang Karbala. Pembalasan setimpal dalam syariat Islam (qishas) pun tidak dilakukannya.

Hal inilah yang kemudian turut diajarkan kepada anak cucu Ahlul Bait, sehingga menjadi akhlak khasnya. dan hingga saat ini, sikap hangat para Ahlul Bait kepada muhibbin-nya pun dapat berupa apa saja, mulai dari sambutan yang hangat saat menerima kunjungan, hingga bantuan sosial bagi masyarakat di sekitarnya. Pada akhirnya, hal inilah yang menjadikan masyarakat mudah menerima dakwah dan keberadaan Ahlul Bait, terutama di negeri yang mayoritas muslim seperti Indonesia. Wallahualam Bissawab.

 

Penulis; Agus Fatoni; Mahasiswa tingkat akhir IAIN Metro; Jamaah Majelis Pecinta Rasulullah SAW (MPR) Way Kanan.