Mengajak Sarjana Desa Menjadi Penggerak-penggerak Desa

Penulis : Mustika Edi Santosa (Direktur Sekolah Desa Payungi University)

Kesadaran dan kepakaan menjadi modal utama dalam melakukan gerakan pemberdayaan. Dua modal ini merupakan pondasi awal yang harus dipupuk dan dilatih oleh warga, terutama anak-anak muda yang nantinya akan menjadi penggerak desa.

Menjadi seorang penggerak bukanlah hal yang sulit, selagi ada upaya yang dilakukan untuk melatih kesadaran dan kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Disamping itu, perlu juga adanya itikad untuk menggali pengetahuan dan mendaratkan gagasan dalam sebuah gerakan yang dilakukan secara konsisten. Sehingga, akan menciptakan anak-anak muda yang memiliki kebiasaan belajar, baik melalui teks maupun gerakan-gerakan yang mereka ciptakan secara mandiri, di mana nantinya bisa menguatkan kesadaran dan kepekaan mereka terhadap potensi yang ada di desanya.

Desa sebagai tempat tinggal, menyediakan banyak potensi mulai dari sumberdaya manusia hingga sumberdaya alamnya. Potensi tersebut harus dapat digali dan dimanfaatkan secara optimal oleh warga desa, tidak terkecuali anak-anak muda desa dengan kreatifitas yang mereka miliki. Anak-anak muda menjadi harapan bagi desa, dalam mengeksplor potensi yang ada agar dapat dikembangkan dan memiliki nilai ekonomi bagi warga desa.

Kini, semakin banyak anak-anak muda desa yang berpendidikan tinggi – sarjana desa. Mereka menjadi salah satu modal SDM yang harus dioptimalkan untuk menjadi penggerak-penggerak desa. Sarjana desa harus didorong untuk kembali ke desa dan berkontribusi bagi desanya. Hal ini mengingat, tidak sedikit juga sarjana desa yang menyelesaikan pendidikannya – mayoritas kuliah di kampus-kampus yang berada di kota – mereka ‘enggan’ kembali ke desanya dan lebih memilih mencari pekerjaan di kota.

Disini peran pemerintah sangat dibutuhkan melalui kebijakan dan kewenangan yang dimilikinya. Perlu adanya upaya untuk mendorong para sarjana desa agar kembali ke desa dan mengembangkan potensi dari desanya masing-masing. Disamping itu, harus ada upaya sejak dini yang dilakukan oleh para orang tua untuk menenamkan kecintaan anak-anaknya terhadap tanah kelahirannya. Dengan upaya-upaya tersebut, akan melekatkan kesadaran kepada mereka bahwa tanah kelahirannya harus mereka bangun dan kembangkan melalui kearifan lokal yang ada sehingga memiliki nilai lebih.

Memanggil sarjana desa untuk kembali berkontribusi bagi pembangunan desa menjadi bentuk upaya untuk memaksimalkan potensi lokal yang ada. Disamping itu, juga untuk mengurangi angka pengangguran sarjana yang terus mengalami peningkatan – Jumlah pengangguran sarjana tahun 2019 naik menjadi 6,24 persen dari tahun sebelumnya hanya 4,31 persen (BPS). Menurut Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Ahmad Heri Firdaus, meningkatnya angka pengangguran sarjana karena adanya pelemahan kinerja industri pengelolaan dan manufaktur sehingga tidak dapat menyerap tenaga kerja. Oleh sebab itu, sarjana desa harus kembali ke desa dan melakukan gerakan-gerakan pemberdayaan dengan mengoptimalkan potensi atau kearifan lokal yang ada untuk mendorong perekonomian desa. Sehingga, desa dapat mandiri dan sejahtera dengan potensi lokalnya. (*)