Meski Indonesia Dikepung Sampah Sendiri, Tetap Setia Impor Sampah dari 43 Negara

Madani-News.com – Persoalan impor mengimpor, barangkali Indonesia adalah jagonya. Hampir semua hal bisa diimpor, bukan hanya pangan, tetapi juga sampah.

Padahal Indonesia boleh dikatakan telah “penuh” dengan sampah, terbukti Indonesia yang kita cintai ini menjadi penyumbang sampah terbesar kedua dunia, khususnya sampah plastik.

Namun, ajaibnya meski menjadi penyumbang sampah terbesar kedua pemerintah masih “ikhlas” mengimpor sampah dari negara lain. Kerenkan?

Tak heran jika baru-baru ini para aktivis lingkungan dari beragam organisasi yang tergabung dalam Alianzi Zero Waste Indonesia (AZWI) mendesak Presiden Joko Widodo untuk menghentikan impor sampah.

Bahkan Direktur Eksekutif Ecoton Prigi Arisandi, Selasa, 25 Juni 2019 mengatakan, Presiden Joko Widodo harus segera menghentikan impor sampah. Hal itu bukan tanpa sebab, sejak tahun 2015 para peneliti mendapati bahwa Indonesia merupakan negara kedua pencemar laut dunia setelah China.

Meski demikian, ternyata Indonesia  menjadi tujuan  43 negara yang mengimpor sampahnya ke Jawa Timur, antara lain Amerika Serikat, Italia, Inggris, Korea Selatan, Australia, Singapura, dan Kanada.

“Kenapa Indonesia? Karena kita kayak jadi destinasi kedua. (Sampah) dari Amerika, kita (negara tujuan) nomor dua setelah India. Dari Inggris, kita nomor dua setelah Malaysia. Kalau dari Australia, kita nomor dua setelah Vietnam,” kata Prigi.

Sementara itu pendiri Bali Fokus, Yuyun Ismawati menjelaskan sejak akhir 2017, China menerapkan kebijakan baru untuk memperketat impor sampah plastik yang dikenal dengan sebagai kebijakan “Pedang Nasional.”

Hal ini membuat perdagangan sampah, khususnya, sampah plastik, di seluruh dunia menjadi terguncang. Padahal selama 1988-2016, China menyerap sekitar 45,1 persen sampah plastik dunia.

Tahun lalu saja ada 410 ribu ton sampah plastik masuk ke Indonesia. Meskipun Indonesia mengaku hanya menerima sampah plastik sebesar 324 ribu ton.

“Jumlah sampah plastik yang diimpor ke Indonesia 2018 jumlahnya meningkat pesat dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Ini adalah efek dari Cina, Malaysia, Filipina, Vietnam, tutup pintu juga (terhadap impor) sampah plastik,” ujar Yuyun.

Kewalahan tangani sampah domestik, tapi kok masih impor sampah

Sedangkan Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Nur Hidayati mengaku sangat heran karena menangani sampah hasil domestik saja Indonesia belum mampu, namun sudah nekad mengimpor sampah dari negara lain.

Ia juga menyoroti rumitnya peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai pengelolaan sampah. Ia bahkan tidak yakin aparat berwenang memahami peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan sampah, termasuk sampah impor.

Nur Hidayati  menegaskan pencemaran atau kerusakan lingkungan bukan delik aduan. Sebab itu, kalau terjadi pencemaran atau kerusakan lingkungan, polisi harus mengusut tuntas tanpa menunggu aduan dari masyarakat atau pihak tertentu.

Karena itu, Nur  mendesak pemerintah untuk segera memperketat regulasi mengenai pengelolaan sampah, termasuk sampah impor; juga memperbaiki pengelolaan sampah sehingga dapat diolah kembali secara ekonomis. Pemerintah daerah dan pusat, harus segera mengeluarkan aturan untuk menghentikan produksi plastik kemasan sekali pakai. Hal ini untuk mengurangi produksi sampah plastik.

“Perusahaan-perusahaan pengimpor limbah yang ternyata tidak sesuai dengan peraturan, itu harus segera dilakukan tindakan hukum. Cabut izin impornya. Itu merupakan suatu tindakan yang menunjukkan ketegasan kalau memang pemerintah Indonesia tidak mau dijadikan penadah sampah kotor dan sampah ilegal,” ujar Nur.

Nur menambahkan sebenarnya sampah-sampah impor itu di negara asalnya tidak boleh dikirim ke luar negeri dan harus diolah di negara asal. Tapi karena pengolahan makin mahal, maka dikirim ke luar negeri. Indonesia adalah salah satu negara  yang jadi”tempah sampah” negara lain.

Sumber : Voa Indonesia