Ngobras Bersama DPR RI Ella Siti Nurmayah “Semua Untuk Warga”

Madani-News.com – Payungi hari ini menjadi tuan rumah bertemunya para kepala desa, anggota dewan, pengurus BUMDes dan para penggerak desa. Ada banyak yang bisa diambil pelajaran dari pertemuan ini. Kelas-kelas inspirasi akan membuat para penggerak daerah lain dapat mereplikasi dan mengembangkannya menjadi gerakan yang berbeda.

Program inovasi desa dijelaskan oleh Mas Ibnu Walidin. Pendamping Desa Provinsi Lampung ini menjelaskan secara kebijakan, program-program inovasi desa yang dicanangkan oleh menteri desa. Sedangkan mbak Ela Siti Nuryamah DPR RI menjelaskan soal rencana tinjak lanjut, para penggerak desa yang konsisten terhadap inovasi desa. Saya membantu menjelaskan dalam proses pemberdayaan di lapangan.

Forum-forum pertemuan antar penggerak harus terus disimpulkan. Sehingga para penggerak tetap menjaga semangat, bagaimana mereka terus bergerak kreatif di Lapangan. Desa Surga (semua untuk warga) baru 1 Minggu dilaunching Menteri Desa. Ada 7 indikator yang sudah saya jelaskan dalam tulisan sebelumnya Desa Surga.

“Semua Untuk Warga” artinya gerakan ini ditujukan untuk kepentingan warga. Maka para penggerak sebaiknya melepaskan kepentingan individu apalagi hanya berpikir jangka pendek. Hal ini memang tidak mudah. Para pendamping desa, saya kira harus ditingkatkan menjadi penggerak, kalau hanya sekadar menjadi pendamping maka perubahan sulit terjadi.

Desa-desa kreatif muncul karena pengetahuan para penggerak cukup. Mereka wajib memiliki skill pemberdayaan masyarakat. Pemahaman sosial maping, pendekatan masyarakat, media desa, pengelolaan Bumdes, pertanian organik, peternakan terpadu, dan desa wisata harus dipelajari. Dan yang wajib mereka punya adalah skill melalui sekolah desa, sekolah media dan sekolah organik.

Kesabaran menjadi penggerak adalah hal utama. Orang-orang harus disentuh hati dan pikirannya. Para penggerak tidak boleh merasa paling pintar, paling mengerti kebutuhan warga. Para penggerak harus pandai merebut hati warga sekitar dan terus membangun pengetahuan dan menggali potensi. Jika ini dilakukan, maka desa akan menjadi surga, ya surga “semua untuk warga.” (Red/Dharma Setyawan)