Pembangunan Destinasi Wisata Berkelanjutan

Madani-News.com – Konsistensi dalam merawat pemberdayaan wisata merupakan hal paling penting dalam gerakan kepariwisataan. Semakin panjang umur pemberdayaan, artinya semakin panjang juga manfaat yang bisa diberikan kepada masyarakat dan lingkungan.

Sering ditemukan, pembangunan destinasi wisata mangkrak dan pada akhirnya tidak memberikan dampak apa-apa bagi masyarakat. Pada akhirnya hanya membuang-buang anggaran dan tenaga. Pasalnya, pembangunan wisata yang dilakukan hanya puas pada penyediaan infrastruktur tanpa adanya proses penumbuh sumber daya manusia (SDM) atau penggerak di dalamnya.

Sejauh ini, program-program di sektor pariwisata yang diagendakan oleh pemerintah cukup baik. Namun, tidak banyak yang berakhir pada seremonial potong pita dan tidak ada upaya jangka panjang untuk keberlanjutan program tersebut. Padahal, selain membangun, hal utama yang juga harus dilakukan adalah memberikan nyawa pada program-program kepariwisataan yang ada agar bisa memberikan dampak positif bagi masyarakat luas dan lingkungan secara terus-menerus. Hal ini sejalan dengan semangat dari tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs yang dicanangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Dalam Sustainable Development Goals (SDGs) terdapat 17 tujuan pembangunan global yang ingin dicapai hingga tahun 2030. Komitmen Indonesia sebagai salah satu negara yang ikut dalam upaya merealisasikan SDGs ditegaskan dalam Perpres No 59 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Nasional Berkelanjutan. Untuk menjalankan amanat Perpres tersebut, Indonesia mendorong lahirnya SDGs Desa.

SDGs Desa adalah pembangunan total atas desa. Artinya, lahirnya SDGs Desa menjadi langkah awal bagi pembangunan desa berkelanjutan yang didasari oleh pematangan konsep, dukungan kebijakan dan kelembagaan, serta pendataan detail dari dalam desa. Dalam upaya ini, desa berkesempatan mengatasi ketertinggalan karena SDGs Desa wajib menjangkau semua warga (no one left behind), segenap lingkungan desa dan wajib mempertahankan ragam kearifan setempat. Desa juga harus tumbuh mandiri dengan kekayaan lokalnya sebagai modal utama pembangunan desa yang berkelanjutan.

Dalam SDGs Desa terdapat 18 tujuan yang ingin dicapai. Diantaranya, Desa Tanpa Kemiskinan, Desa Tanpa Kelaparan, Desa Sehat dan Sejahtera, Pendidikan Desa Berkualitas, Keterlibatan Perempuan Desa, Desa Layak Air Bersih dan Sanitasi, Desa Berenergi Bersih dan Terbarukan, Pertumbuhan Ekonomi Desa Merata, Infrastruktur dan Ekonomi Desa Sesuai Kebutuhan, Desa Tanpa Kesenjangan, Kawasan Pemukiman Desa Aman dan Nyaman, Konsumsi dan Produksi Desa Sadar Lingkungan, Desa Tanggap Perubahan Iklim, Desa Peduli Lingkungan Laut, Desa Peduli Lingkungan Darat, Desa Damai Berkeadilan, Kemitraan untuk Pembangunan serta Kelembagaan Desa Dinamis dan Budaya Desa Adaptif. Fokus pembangunan yang dilakukan pemerintah melalui SDGs Desa ini tidak terlepas dari sumbangsih desa dalam mendorong terealisasinya SDGs nasional.

Menurut A Halim Iskandar menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, sumbangsih desa mencapai 74 persen dari capaian SDGs nasional. Artinya, desa punya peran dominan dalam merealisasikan pembangunan nasional. Setidaknya terdapat 74.953 desa di seluruh Indonesia yang bisa dioptimalkan peranannya agar capaian-capaian tujuan pembangunan berkelanjutan dapat diwujudkan.

SDGs Desa kemudian menjadi langkah strategis bagi pembangunan desa, terutama pembangunan pada sektor wisata. Komitmen pemerintah melalui program tersebut dan Dana Desa yang ditransfer dari pusat setiap tahunnya menjadi peluang besar bagi pengembangan sektor wisata desa. Terlebih kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif juga telah mendorong tumbuhnya desa-desa wisata di Indonesia agar desa mampu mendiri dan sejahtera dari potensi-potensi lokal yang dimilikinya.

Sekali lagi, merealisasikan program adalah hal yang mudah, tapi memberi nyawa pada program tersebut harus ada penggerak yang konsisten dalam menuangkan ide dan gerakan. Oleh sebab itu, partisipasi masyarakat sebagai motor penggerak sangatlah penting, di samping kehadiran pemerintah yang terus memberikan dorongan bagi terciptanya penggerak-penggerak baru.

Penulis : Mustika Edi Santosa (Sekjend GenPI Lampung)