Pemilihan Umum

Pemilihan Umum merangkum harapan palsu. Pra pelaksanaan selalu mempertontonkan klaim keberhasilan tokoh yang dielu-elukan. Dari klaim-klaim yang saya tonton (boleh ‘kita’ andai Anda merasa demikian), rakyat selalu terbelah jadi tiga; pro, kontra dan yang lelah dengan keadaan wajah perpolitikan di Republik Tanah Sorga ini. Hal tersebut niscaya bertahan hingga akhir perhelatan Akbar.

Ingatan publik merekam jelas perihal vidio seteru dua kelompok, yang masing-masing mensucikan satu pihak. Vidio yang pernah viral tersebut bukti dukungan. Tapi saya (boleh ‘kita’) saksikan kejamnya orang cerdik pandai. Kini mereka tak lagi peduli nasib kanak-kanak. Pasalnya, bisa kita saksikan lewat vidio berdurasi pendek yang beredar di dunia maya; kanak-kanak hari ini disibukan oleh sikap politik orang tuanya.

Orang tua harusnya menjadi sekolah pertama, namun kini justeru–banyak yang–tidak kentara perannya. Kanak-kanak hari ini tereksploitasi pemikiran orang tuanya, yang ramashook. Mereka tampil, bicara seakan alami (tidak disetir) dalam vidio yang terbaca menentukan pilihan politik.

Padahal kita (kali ini saya yakin Anda setuju) bisa asumsikan, jika kesempatan (dan kemungkinan) hidup di tiap harinya adalah 24 jam, hitung berapa waktu kanak-kanak dicekoki kesontoloyoan orang tua (dalam pilihan politik, yang kanak-kanak pun belum dinilai dewasa oleh negara: belum punya e-KTP). Boleh jadi delapan jam dihabiskan kanak-kanak dengan kondisi naas: di rumah mereka dibisiki, diteriaki, dipengaruhi, ditontonkan pertikaian pilihan politik orang tua. Delapan jam berikutnya  di sekolah, mereka (yang dibekali pengetahuan luhur orang tuanya itu) sibuk mendebat, mengelompok, mencibir, menentukan sikap (meski di luar bilik suara) sesamanya yang juga dicekoki ketidakpedulian orang tua. Delapan jam terakhir, mereka tidur, dan boleh jadi tikai tak kunjung reda. Benih yang disemai dalam rutinitas di dunia nyata itu walhasil dibawanya ke alam mimpi.

Maka, beruntunglah kanak-kanak ketika masih sempat ditanyakan: “Belajar apa tadi di sekolah? Ada Pekerjaan Rumah yang sulit?” Atau sekadar diperintah: “Jangan tonton debat capres-cawapres, usia kau belum waktunya!”

Semoga benar bahwa kecerdasan tidak diwariskan. Tapi dipersiapkan. Sebab kasihan kanak-kanak itu jikalau ndableg bin sontoloyo di kemudian hari.

Pada perayaan ritus Pemilihan Umum tak kalah memperihatinkan. Publik sibuk bertikai, kanak-kanak ikut ambil bagian. Ketua KPAI, Susanto, mengingatkan, bahwa pelibatan anak dalam ‘kampanye’ Pemilihan Umum bisa dapat berdampak pada pembentukan karakter, psikologis, dan kepribadian anak tersebut.

Tapi kecintaan pada tokoh politik nyatanya tidak mampu menggoyahkan keimanan, sekalipun masa depan kanak-kanak. Bahkan, pada 27 Maret 2019, kubu pasangan calon Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno tidak bisa memprediksi kanak-kanak di lingkaran politik. Yang bisa diprediksi oleh kedua kubu, hanya, di bawah kepemimpinan masing-masing jagonya, Indonesia makin adil, makmur serta aman sentosa. Greget ihhh…. heroik bingits.

Kini kita telah melewati masa-masa sulit itu. Ngimpi! Dan harga yang amat mahal harus kita bayar. Kemungkinan hancurnya generasi penerus negeri bertanah sorga ini memang belum sempatdiprediksi. Publik hanya–lagi-lagi–sibuk memprediksi masa depan negara lewat sikap kanak-kanaknya yang tiap saat dicekoki kepentingan orang tuanya.

“Kan, dedek yang masih merasa hangat dan nyaman dalam gendongan itu nangis saat disebut capres. Pasti capres yang atunya adalah solusi dari kepelikan yang terjadi.”

“Mungkin kakinya diinjek, Gan, jadinya nangis,” sahut temanku yang lagi makan nasi uduk.

“Lho, kan si dedek lagi digendong, gak mungkin kakinya terinjak.”

“Sudah lah kita ambil simpelnya aja, artinya kan!”

Penulis : Afriyan Arya Saputra, penggemar serial Game of Thrones: a Song of Ice and Fire. “Lagu dari api dan es hanya desis, yang pada kesempatannya menjadi desus,” kata Afriyan sambil menanti season 8 (Sumber dari www.aternatif.news.com)