Perang Slogan Para Calon Wakil Rakyat

Gempita kampanye mulai berlangsung, hiruk pikuk mulai menyebar seantero negeri, mulai dari kesiapan sejumlah partai hingga diskusi skala kecil disetiap kalangan dalam menyambangi pemilu serentak 2019 mendatang. Tentu dalam satu suara menentukan nahkoda negara hingga para wakil rakyat mereka (parlemen).

Persaingan sengit akan terus berlangsung antar kandidat yang mencoba mencalonkan diri dalam menduduki kursi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) maupun di tingkat DPRD Provinsi maupun Kabupaten. Para calon mulai berlomba – lomba meminang para pemilih untuk bisa mendapatkan suara terbanyak dalam mendulang kemenangan pada pemilu.

Dalam kompetisi tersebut, untuk mendapatkan perhatian dan simpati dari masyarakat sejumlah cara dilakukan, salah satu cara yakni membuat stiker, baliho, hingga gambar yang di upload ke media sosial sebagai senjata kampanye yang berisi slogan – slogan kampanye yang dapat menarik perhatian masyarakat.

Oleh karena itu, kampanye yang mereka buat mengandung kalimat-kalimat yang kadang mengelitik pembacanya, karena terkadang kata-katanya hingga kepuncak over yakni, dibuat – buat dan mengada-ada. Selain itu, masyarakat juga sering tidak kritis dalam memahami isi dari slogan – slogan kampanye tersebut.

Sehingga, terkadang ada calon legislatif (Caleg) menggunakan slogan kampanye dengan pernyataan yang dapat meluluhkan hati masyarakat dengan kata-katanya, padahal sejatinya yang sering terjadi ialah, setelah Caleg tersebut memenangkan pemilu dan menduduki kursi empuk kepemimpinan itu, mereka menjadi lupa diri dan tidak menghiraukan kehidupan serta kesejahteraan rakyatnya.

Mereka lupa akan pernyataan yang mereka buat ketika berkampanye. Endingnya, bahkan kerap kali kita mendengar terungkapnya kasus-kasus korupsi yang dilakukan para oknum wakil rakyat.

Melihat hal itu, Penulis menyarankan, agar kita harus lebih berhati-hati dan kritis lagi dalam memahami makna dari kalimat-kalimat yang menjadi slogan kampanye para calon legislatif. Karena gaya bahasa yang digunakan setiap orang berbeda-beda dan juga dari gaya bahasa itu sendiri dapat mencerminkan bagaimana jati diri calon tersebut.

Sehingga, untuk dapat memahami para caleg tersebut, kita dapat meneliti lewat gaya bahasa yang mereka gunakan dalam slogan-slogan kampanye yang mereka buat, apa slogan itu sesuai dengan kepribadian dan sikapnya atau mungkin slogan itu hanya dibuat-buat untuk menarik simpati dan perhatian masyarakat. Sehingga perlu melihat track record dan integritas para kandidat.

Penulis : Dani Fidiantari