Perempuan dan Kantong Kreatif Desa

Penulis : Dwi Nugroho (Pengamatan Pembangunan Desa)

Pernyataan mantan menteri keuangan Amerika Serikat, Lawrence Summer, tentang perekonomian global yang buruk bukan tanpa alasan. Setelah krisis 2008, Summer menilai akhir tahun kemaren merupakan tahun yang berbahaya pada sektor keuangan. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Kristalina Georgieva, Direktur Eksekutif dan Moneter Internasional (IMF), dalam pidato pelantikannya pada 1 oktober 2019. Ia menjelaskan tentang pelambatan pertumbuhan ekonomi secara global sedang terjadi (syncronized slowdown).

Fenomena tersebut tentu bersifat struktural, artinya tidak berdampak langsung ke masyarakat, khususnya desa. Namun, secara gradual masyarakat, baik kota maupun desa akan menerima dampak terburuk, seperti turunnya harga jual produk, tanaman, dan lainnya meski permintaan masih stabil. Hal tersebut akan terus terjadi akan terjadi jika pemerintah tidak sigap menanggapinya.

Angka kemiskinan yang masih tinggi dan juga ketimpangan ekonomi yang masih lebar akibat ulah segelintir orang membuat semakin rumit pengejolakan ekonomi negara. Desa, yang kemudian menjadi basis ekonomi kerakyatan, tentu membutuhkan banyak sumbangsi nilai pemberdayaan untuk mendorong masyarakat agar dapat berdaya. Terlebih, kehadiran teknologi yang sebenarnya tidak ramah dengan kehidupan masyarakat desa yang tidak sedang dalam masa produktifnya dan fasilitas yang terbatas membuat masyarakat desa senantiasa bergantung pada kebijakan.

Desa, pada dasarnya, merupakan lumbung ekonomi dan energi, yang selama ini hanya dijadikan objek. Padahal, jika masyarakat dapat berdaya dan terupgrade pengetahuannya, mereka dapat menciptakan lapangan kerja dengan proses-proses kreatif. Kreativitas tentu tidak terbatas, tergantung bagaimana orang menyikapinya. Anak-anak muda hari ini telah membuktikannya, yang mana mereka mampu memaksimalkan kehadiran teknologi untuk menciptakan sumber ekonomi baru.

Bonus demografi, masa dimana banyak masyarakat hidup dalam usia produktifnya, tentu seharusnya mampu menjawab pernyataan Bank Dunia tentang kehadiran teknologi. Dalam The Inovation Paradok, Bank Dunia menyebutkan bahwa teknologi informasi tidak maksimal karena terbatasnya tenaga kerja terampil, terbenturnya dengan regulasi, dan lingkungan yang tidak kompetitif.

Penciptaan kantong-kantong kreatif desa tentu membutuhkan dorongan moral anak-anak muda. Namun apa yang terjadi saat ini menjelaskan bahwa anak muda lebih tertarik dengan dunia urban. Banyak dari mereka telah meninggalkan desa untuk bekerja di kota dan menanggalkan kewajibannya sebagai warga desa. Dan, keberadaan ibu-ibu dan bapak-bapak menjadi penanggung jawab utama pembangunan ekosistem perekonomian desa.

Perempuan Kreatif

Mary Wollstonecraft, seorang antropologist Britania Raya abad ke 18, dalam bukunya A Vindication of Rights of Women, menjelaskan bahwa nilai atau kedudukan perempuan di dalam lingkungan masyarakat memiliki kedudukan yang sama dengan laki-laki, baik pada bidang ekonomi, politik dan pendidikan. Artinya, perempuan-perempuan desa dan kota memiliki kewajiban dan tingkat yang sama dengan laki-laki untuk membentuk sebuah enclave belajar dan pemberdayaan.

Perempuan yang menjadi subjek memiliki kesempatan untuk meningkatkan pendapatan per kapita melalui proses yang terintegrasi. Bukan hanya untuk kepentingan ekonomi, namun juga kepentingan sosial kemasyarakatan. Potensi tersebut perlu dioptimalkan untuk membentuk ekosistem berbasis perempuan. Keberadaan perempuan yang hari ini melimpah membutuhkan sentuhan kreatif untuk dapat beradaptasi dengan pergejolakan ekonomi dan perubahan kebijakan.

Perkembangan teknologi yang terjadi dalam dasawarsa ini membuat semua pihak harus berpikir kreatif untuk dapat survive dalam banyak kondisi. Keterampilan membaca peluang dan menghitung kerugian pada tahap ini sangat diperlukan. Pada masa kepercayaan pembangunan di sematkan pada kelompok anak muda (mileneal), perempuan-perempuan tentu juga harus berkecimpung di dalamnya.

Ketergantungan ekonomi pada tingkat tertentu terhadap laki-laki tentu merupakan perspektif yang kemudian harus dikurangi. Fenomena tradisional tersebut seharusnya sudah selesai karena sejak dulu proses mubadalah merupakan proses yang banyak dilakukan oleh masyarakat. Misal, aktivitas yang terjadi di lingkungan masyarakat tradisional, mereka (laki-laki dan perempuan) bahu membahu dalam proses kreatif pemenuhan kebutuhan.

Pondasi tentu harus dibangun dengan kuat. Berpangku pada satu sisi hanya akan membuat konstruksi bangunan menjadi lemah. Hal yang sama terjadi dewasa ini pada sektor economic issues. Pertumbuhan ekonomi yang tidak dapat diprediksi secara spesifik menghadirkan ketergantungan pada beberapa pihak.

Perang dagang antara China dan USA menjadi sebuah pengejolakan yang membuat banyak negara harus membuat kebijakan baru. Ditambah dengan konflik bilateral antara Iran dan USA yang belum selesai, serta proses pemakzulan Donald Trum membuat gejolak politik ekonomi selalu berubah drastis. Peristiwa internasional tersebut saat ini telah menyita banyak perhatian dunia, termasuk Indonesia.

Integrasi Peran Perempuan

Hadirnya perempuan dalam sebuah kelompok masyarakat seharusnya menjadi daya ungkit dalam pembangunan Desa. Dalih bahwa perempuan adalah lemah dan merupakan objek tentu harus ditinggalkan. Di samping itu, perempuan pada dasarnya memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki. Dalam konsep ekonomi, perempuan bukan lagi sebagai pihak kedua, tetapi juga dapat berperan sebagai pihak pertama.

Beberapa gerakan berbasis gender, di Indonesia, telah mengambil perhatian publik. Peristiwa termasyur yang pernah terjadi adalah di kala Kartini menolak kalah dari regulasi pemerintah, Cut Nyak Dhien yang kemudian ikut andil dalam proses perlawanan kepada Belanda di Aceh, dan, belum lama ini, Gunretno, salah satu dari 9 Kartini Kendeng melakukan perlawanan terhadap pabrik semen.

Membentuk negeri yang baldatun tayibatun warabun ghafur tentu membutuhkan banyak peran masyarakat, tanpa terkecuali adalah aktivis perempuan. Hari ini, tidak banyak perempuan yang mampu menjawab problem-problem kehidupan mereka. Namun, sebenarnya pelibatan perempuan merupakan sebuah potensi yang sangat mahal. Pertama, karena perempuan punya tingkat kepekaan yang lebih. Kedua, mempunyai sifat yang feminim tanpa ada rekayasa sosial. Dan, ketiga, perempuan mempunyai nilai untuk bergerak secara lembut dan mendalam.

Perempuan-perempuan Yosomulyo, misalnya, telah mampu memberikan respon positif terhadap hiruk pikuk permasalahan gender, ekonomi, lingkungan, sosial, dan juga politik. Selain itu, mereka juga mampu menyeimbangakan antara kewajiban keluarga, sosial, dan spiritual. Hal yang kemudian menjadi nilai tambah dari gerakan perempuan-perempuan Yosomulyo adalah mereka mampu merespon revolusi industri yang menjadi perbincangan publik.

Gerakan kolektif yang dilakukan oleh perempuan Payungi mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara drastis, meskipun mereka menghabiskan waktunya untuk saling berdaya. Secara garis besar indikator perubahan struktur ekonomi adalah ketika masyarakat mampu berdaya dan mandiri untuk menentukan arah kebijakan ekonominya sendiri. Ekonomi yang tidak stabil menuntut setiap keluarga membuat sebuah manajemen keuangan keluarga secara mandiri. Tujuannya adalah untuk mengelola pengeluaran dan pemasukan yang sedemikian mungkin.

Gerakan yang berawal dari sebuah musala ini memberikan dampak pada pembangunan ekonomi desa. Dengan membentuk sebuah komunitas/kelompok, ibu-ibu berdiskusi setiap rabu malam sebagai langkah dari pengembangan ide dan gagasan. Pertemuan ini identik dengan dunia pesantren karena diselenggarakan di musala. Mereka diberikan asupan-asupan pengetahuan untuk mengembangkan usaha kolektif mereka.

Perempuan-perempuan Yosomulyo, saat ini, mampu memberikan kontribusi positif pada keuangan keluarga. Dengan kolaborasi, mereka mampu membangun sebuah peradaban tanpa mengganggu kewajiban sebagai ibu rumah tangga dan istri. Bahwa perempuan yang dianggap sebagai pihak yang tersubordinasi, dijawab dengan pembangunan secara kemandirian. Mereka mampu berkolaborasi dan menjaga nilai kerukunan untuk menciptakan kekuatan pembangunan ekonomi desa.

Lebih lanjut, perempuan-perempuan payungi mampu menanggalkan identitas dan kelas sosial di dalam gerakan kolektif tersebut. W storey dan Glenn H utter telah melakukan survei tentang ideologi agama di tahun 2002. Hasilnya adalah terdapat 2,1 persen penduduk Indonesia yang tidak berafiliasi keagamaan tertentu. Meskipun demikian, dialektika tentang intimidasi dan persekusi terhadap pihak-pihak tertentu mampu dilepas sebagai bentuk kepedulian dan toleransi dalam kehidupan bermasyarakat.

Jika hal ini bisa didaratkan pada gerakan pembangunan desa di banyak tempat dengan membentuk kantong-kantong kreatif perempuan, maka perempuan akan mampu merdeka dalam kehidupannya. Potensi tersebut harus diambil oleh pemerintah desa untuk mengoptimalkan peran perempuan dalam pembangunan ekonomi desa. Tidak kemudian menganggap bahwa perempuan merupakan pihak yang teralenialisasi dalam masyarakat.