Perlindungan Perempuan Sangat Penting dan Jangan Diremehkan

 11 total views

Penulis : Dharma Setyawan (Penggerak Pasar Yosomulyo Pelangi & Rektor Payungi University)

Data-data kekerasan terhadap perempuan semakin meningkat. Selain pelecehan, pemerkosaan, hak perempuan juga semakin tergerus oleh dominasi laki-laki disektor publik. Belum perempuan memainkan peran ganda, dalam pekerjaan, menjadi single parent saat ditinggal suami meninggal atau cerai.

Tentu sudah banyak kajian, seminar, buku riset dan sosialisasi bahwa perempuan harus mendapat tempat yang layak. Dari mulai tingkat anak-anak sampai perguruan tinggi upaya ini terus dilakukan. Memandang perempuan sebagai makhluk biologis adalah salah satu penyebab. Seharusnya kesetaraan antara laki-laki dan perempuan harus ditempatkan dalam iklim spiritual. Jadi perempuan adalah sama, bukan manusia ke dua setelah laki-laki. Mereka layak muncul dipublik dalam kontribusi gagasan dan gerakan.

Pemberdayaan perempuan bagi saya pribadi harus masuk pada gerakan, bukan sosialisasi gagasan. Pengalaman gerakan Payungi pertama, memberi ruang atau kanal pada perempuan untuk membangun kolektifitas. Di sanalah perempuan ternyata semakin dinamis dan pengetahuannya semakin berkembang. Pesantren wirausaha hampir 2 tahun ini terbukti semakin membuat dinamis para ibu-ibu untuk mendapat pengetahuan. Mengundang pemateri yang kompeten, menonton film, mendiskusikan ide untuk dikerjakan tiap minggu dan menumbuhkan potensi lainnya.

Kedua, praktik ekonomi secara gotong royong. Kita tidak bisa remehkan peran perempuan dalam menyumbang peningkatan ekonomi. Kolektifitas para perempuan dibanyak tempat cukup meyakinkan bahwa mereka bukan makhluk lemah. Selain sebagai ibu rumah tangga yang lelah mengurus wilayah domestik, mereka juga mengerjakan apa yang dikerjakan para laki-laki. Bekerja di sawah, buruh pabrik, berjualan makanan, buruh rumahan dan lainnya. Dalam gotong royong mengubah ruang kreatif, Ibu-ibu terbukti militan dalam gotong-royong mempercantik ruang. Mereka selalu bisa untuk mandiri dan kompak dalam gerakan.

Ketiga, perempuan sadar media sosial. Ibu-ibu Payungi ditahun pertama kami ajak mengunakan Facebook untuk mempromosikan dagangan. Tahun ke dua mereka sudah pandai mendayagunakan Instagram mereka untuk promosi berjualan di Payungi. Ke depan akan kita tingkatkan dalam promosi video dan tulisan. Bahkan kami sedang membuat buku catatan 2 tahun Payungi yang banyak berkisah tentang gotong royong perempuan membuat pasar. Setiap Minggu gerakan pasar kreatif ini mampu menghasilkan catatan transaksi per gelaran uang masuk ke RT 21 diangka 40-50 juta.

Jadi kekerasan terhadap perempuan dapat dikikis dengan cara melibatkan perempuan dalam gotong royong ekonomi. Mereka bukan hanya bekerja disektor publik tapi malah tereksploitasi secara ekonomi. Ekonomi gotong royong inilah yang akan membuat mereka menemukan pemaknaan hidup dalam ruang pengembangan pengetahuan. Mereka berkelompok, berserikat, berkumpul dan menunjukkan potensinya masing-masing. Jadi menikmati proses dengan sosial preneurship membuat mereka tetap bahagia, terhibur dari rutinitas domestik yang menjenuhkan, dan paling penting mereka punya ruang belajar mandiri dalam contoh Payungi yaitu pesantren wirausaha.

Ketika para ibu-ibu ini dengan tegas mengatakan, “kami mandiri.” Ada harapan besar bahwa kita semua menginginkan ekosistem hidup yang ramah pada semua. Bukan hanya pada perempuan, tapi ramah anak, ramah disabilitas, bahkan ramah terhadap laki-laki yang punya kesadaran untuk bergandengan tangan membangun perubahan pada wilayah-wilayah kecil di lingkungan sekitar. Sudah banyak kita mendengar kabar kekerasan perempuan, sudah saatnya kita melibatkan peran perempuan dalam perlawanan dan tentu kreatif dalam gerakan. (*)