Proses Mengajar Di Masa Pandemi, Kadis Pendidikan Kota Metro: Guru Harus Lebih Kreatif

 12 total views

Lampung, Kota Metro – Tujuh bulan terhitung sejak Maret 2020, proses belajar mengajar berlangsung secara daring. Beralihnya proses pendidikan dari tatap muka sampai ke daring, memerlukan manuver yang dilakukan oleh para praktisi pendidikan. Teknologi, adalah media yang mau tidak mau harus digunakan.

Walaupun sebenarnya, perubahan pola belajar ini membuat sekitar 50% murid tidak nyaman dengan proses pembelajaran secara daring ini. Sehingga, banyak murid yang mengikuti pembelajaran daring justru tidak sungguh-sungguh.

Namun itu menjadi sebuah tantangan, dimana guru harus lebih kreatif untuk membuat proses pembelajaran daring lebih menarik.

Dalam hal ini, Kepala Dinas Pendidikan Kota Metro, ir. Ria Andari, M.Pd berusaha membuat agar pembelajaran daring juga tetap maksimal, dan tidak menghilangkan semangat pelajar untuk terus mengikuti pembelajaran.

“Saya merubah tadinya daring ada di rumah, sekarang daring ada di sekolah, agar guru tidak asal-asalan dalam melakukan proses pembelajaran secara daring.” Tegas Ria Andari.

“Kurikulum yang kita terapkan adalah kurikulum darurat, diselesaikan dengan kebutuhan anak masing-masing. Kita tidak lagi menghitung bagaimana pencapaian anak terhadap kurikulum. Namun bagaimana anak tetap senang dan menikmati proses pembelajaran.” Lanjutnya.

Ria berkeinginan Kedepan setiap sekolah harus ada studio mini, biar lebih bagus dalam pelaksanaan pendidikan secara daring. Guru yang katanya digugu dan ditiru, maka harus selalu lebih pintar, karena anak sekarang banyak teman baru seperti youtube, facebook, dan Instagram.

Sesi terakhir, Ria berpesan “Untuk anak2 yang belajar daring, silahkan mencari pembelajaran-pembelajaran baru diluar sekolah. Karena penilaian sekarang juga ada penilaian karakter”.

Selain menghadirkan Kepala Dinas Pendidikan, Talkshow Madani juga mengundang Musthafa Akhyar selaku penggagas Kampung Bahasa Payungi.

Dalam kesempatan TalkShow Madani Musthafa Akhyar telah memaparkan pandangannya terkait dengan sistem pendidikan online.

“Tahun 2015, saya membaca satu penelitian, bahwa generasi milenial A sampai Z yang lahir bersamaan dengan internet, mempunyai psikologi yang berbeda. Yang mempengaruhi psikologi itu mesin learning. Mesin learning mudah membaca diri kita, media sosial selalu menampilkan apa yang sering kita lihat. Apakah pendidikan juga seperti itu? Hanya fokus kepada yang diminati atau tetap memberikan proses pembelajaran secara konfensional yang beragam.” Terangnya.

Masih menurut Musthafa Akhyar, bahwa gagasan dalam pendidikan itu penting, Kalau pendidikan kehilangan gagasan maka selesai lembaga pendidikan ini. Yang perlu dilakukan adalah terus memperbarui gagasan dengan berkolabirasi melalui model pentahelix. Berkolaborasi untuk terus memunculkan gagasan.

Terakhir, Musthafa Akhyar berpendapat bahwa pendidikan itu harus menyiapkan siswa untuk bisa berkompetisi dan mempunyai kompetensi, karena kedepan akan menghadapi kompetisi global, kita harus sadar bahwa pendidikan kita harus siap menyiapkan anak mudanya untuk bisa bersaing secara global.

Untuk melengkapi kesiapan berkompetisi, maka harus ada kompetensi untuk bisa berbaur dengan warga global. Syarat uatamanya adalah teknologi, kompetensi pengetahuan dan kompetensi bahasa. (*)