Tanggapan GARBI (Gerakan Arah Baru Indonesia) oleh Penggiat Sosial

Madani-news.com – Kota Metro – Gerakan Arah Baru Indonesia (GARBI). Sebuah ormas baru ini diisi mayoritas anak-anak muda alumni Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Muncul dengan semangat khas milenial, mereka bersimpul dan mendeklarasikan diri ke permukaan pasca Anis Matta dan khususnya Fahri Hamzah dikeluarkan dari PKS. Saya tidak memahami sejauh mana sepak terjang GARBI, apakah akan deklarasi menjadi partai politik dalam waktu dekat atau tetap menjadi ormas saja. Sebagaimana dulu pengalaman ormas Nasional Demokrat besutan Surya Paloh, yang menyatakan tidak akan menjadi Partai Politik lalu dengan cepat bertransformasi menjadi partai Nasdem.

GARBI saya melihat masih sebatas ruang diskusi di caffe-caffe. Di Metro pengurus GARBI berlatar belakang berbeda ada dari aliran kegamaan, ormas pemuda, bahkan sekretarisnya adalah caleg muda dari partai Hanura. Ketua GARBi Metro adalah Abib Nuansa mantan ketua Umum Daerah KAMMI Metro.

Ada hal positif yang bisa dibangun jika semangat simpul nasional ini dibangun lebih dinamis, artinya tidak diarahkan hanya untuk kepentingan politik elektoral. Pada situasi saat ini, lembaga partai politik adalah institusi yang lambat seperti dengan birokrasi pemerintah. Ditambah makin ruwet, partai juga cenderung melanggengkan oligarki, jikapun berusaha tidak, partai di era milenial tetap memerlukan bohir alias penyandang dana minimal untuk nafas gerakan.

Ketika diajak Abib untuk berbagi inspirasi terkait gerakan sosial, saya tentu mengiyakan dan saya ajak sekalian bertempat diskusi di Payungi. Saya ingin anak-anak muda di GARBI melampaui cara berpikir hanya sekedar ingin bertransformasi jadi partai politik misalnya. Atau sekedar ikut-ikutan Fahri Hamzah. Maka benar Ahmad Jilul Qur’ani Farid pemuda revolusioner dan Milenial ini berpendapat belum tertarik gabung ke GARBI, karena belum memdapati hal-hal baru.

Silaturahim ini untuk saling belajar, apa yang harus kita lakukan di zaman yang seharusnya lebih banyak kolaborasi dari pada kontestasi. Kita harus menyambut baik golongan apapun yang ingin mewarnai Indonesia wabil khusus gerakan pemberdayaan yang belum banyak diminati para aktivis. Tentu politik lebih menarik para veteran-veteran kampus, dan impian mereka tampil dibaliho-baliho masih dianggap kemewahan. Jika belum makomnya mereka mengabdi kepada para politisi, atau meniti karir di ruang ormas, LSM yang bisa menambah CV aktivis. Pemberdayaan memang jalan yang sepi, tapi bukan berarti kita sendiri.

Insyallah, malam minggu GARBI Metro akan datang ke Payungi dan saya ingin juga mendengar dari mereka gagasan-gagasan baik dari silaturahim ini. Semoga ada gayung bersambut dan kelak ada kolaborasi gerakan yang bisa dilakukan. Karena sejatinya, ribut di media sosial juga harus diimbangi dengan gerakan di lapangan. Salam Payungi

Penulis : Dharma Setyawan (Dosen IAIN Metro)