Tengaran Kota

Madani-News.com – Dalam teori klasik di bidang tata kota yang dikemukakan oleh Kevin Lynch, salah satu komponen yang penting dalam mengenali suatu kota ada keberadaan landmarks, atau dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan istilah arsitektural, “tengaran”. Dalam Bahasa Jawa, kata “tetenger” juga kurang lebih merujuk pada hal yang sama.

Dalam bukunya yang berjudul The Image of the City, Lynch menyebutkan bahwa tengaran ini adalah titik-titik orientasi eksternal yang biasanya berupa obyek fisik yang mudah dikenali dalam suatu kawasan perkotaan. Sederhananya, obyek ini bisa berupa bangunan, monumen, taman, atau karya arsitektural terbangun lainnya.

Tapi tidak semua tengaran mempunyai pengaruh multidimensi (sosial, budaya, sejarah, dsb) yang kuat. Tidak banyak pula yang mempunyai karakter spasial atau ruang kota yang istimewa. Dan hanya beberapa yang benar-benar dapat menjadi unsur utama pembentuk struktur kota sekaligus inti kota itu sendiri.

Di kota-kota Indonesia setahu saya tidak banyak tengaran kota yang berkarakter keruangan kuat seperti misalnya Tugu Monas di pusat ibukota Jakarta, Tiga serangkai Kraton, Alun-alun, dan Tugu yang jadi bagian dari aksis kultural historis kota Yogyakarta, Jam Gadang dan kawasan sekitarnya yang menjadi sentra wisata sekaligus puncak tertinggi kota Bukittinggi, dan Jembatan Ampera yang menghubungkan dua sisi kota Palembang yang terbelah Sungai Musi.

Dan dari nun jauh di tengah-tengah wilayah Provinsi Lampung di ujung selatan Pulau Sumatera, di suatu kota historis bernama Metro, ada satu tengaran berwujud bangunan religi yang juga menjadi saksi sejarah, pusat interaksi sosial, representasi multi-kultural, dan sekaligus menjadi inti utama pembentuk struktur kota. Bangunan itu adalah Masjid Taqwa Kota Metro.

Jika dalam perspektif agama, masjid dapat menjadi tempat yang utama bagi manusia dalam “menemukan” Tuhannya dan melakukan orientasi ulang diri menjadi pribadi yang lebih baik. Maka dalam perspektif keruangan, Masjid Taqwa adalah suatu tengaran bagi warga dan pengunjung Kota Metro untuk menemukan identitas kota dan menjadi titik orientasi utama dalam mengeksplorasi ruang-ruang di Kota Metro.

Penulis : Fritz Akhmad NuzirĀ