Youtuber

Madani-News.com – Mendengar banyak mahasiswa yang sudah punya gaji dari youtube. Mulai dari 2 juta-25 juta per bulan, saya mulai menganggap para content creator makin penting di kota ini. Mereka adalah anak-anak muda yang sebenarnya sudah tidak butuh lagi negara. Mendengar mahasiswa bercerita bagaimana mereka memperoleh uang dari endorse instagram, youtube, komik digital, sampai animasi, saya sudah menyatakan mengaku kalah dengan mereka.

Baru-baru ini saya juga mendengar curhatan mereka, bahwa orang tua meminta mereka kerja di Bank. Ya para orang tua belum di upgrade pengetahuannya. 😊 Apalagi saya sebagai dosen juga harus terus belajar dengan mereka. Para milenial ini memang terlihat individual dalam karya, tapi sejatinya mereka sangat sosial dalam mengambil tema-tema sosial. Haters dan follower adalah berkah yang sama bagi para content creator ini. Bahkan @Ibaf Fabi dengan subscribe 2 juta menyatakan dalam videonya,”Gua emang sampah, tapi gua bisa didaur ulang.” Tonton dan renungkan sendiri maknanya bagi kota ini.

Bahkan perubahan kota bisa diinisiasi oleh mereka. Kita yang mendaku para aktivis namun tidak berpengaruh amat ini, lebih baik berada dibalik layar. Menyuntikkan gagasan gerakan ke para milenial yang biasanya ganteng dan cantik itu. Misal, soal sampah, soal wisata warga, soal birokrasi yang tuli, kritik terhadap fasilitas publik, dari usuran materil sampai spirituil. Di Yosomulyo M Sidik anak Pak RW 07, Haji Timin memiliki pendapatan dari youtube 20 juta per bulan. Habis subuh saya ngobrol ke buk Nur Jannah istri Pak RW, agar mengajak anaknya untuk membuat video tentang payungi.

Saya pribadi optimis, kota ini akan maju di tangan anak-anak muda kreatif dan peduli. Mereka tinggal diarahkan ke sedikit hal tentang bagaimana popularitas dirinya bisa membantu banyak warga untuk sama-sama membranding sebuah gerakan. Semangat gotong royong ditopang media digital yang tak kenal jeda, akan membuat gerakan kreatif langgeng dan tentu menguntungkan. Jadi tidak dibantu pemerintah bukan masalah.

Pengalaman saya pribadi mengurus instagram IAIN Metro ada 9000 lebih follower, #ayokedamraman 5800 follower, dan @Payungi 2800 follower adalah pengalaman menyenangkan dan tentu juga gerakan susah payah. Update yang membutuhkan energi lebih dan ide yang harus mengalir. IAIN Metro sedikit lebih mudah, karena banyak mahasiswa baru. Untuk mempercepat perlu anak-anak muda yang dinamis, visioner dan juga mengerti trend. Misal @Agorivalll anak UM Metro terbukti hits dengan trend korea, berhasil menarik perhatian dengan 850 ribu lebih follower.

Jadi di masa depan para content creator inilah yang akan membuat banyak perubahan. Jika anda mau nyalon walikota atau legislatif dengan terus menghambur-hamburkan uang dan berakhir dengan menggerogoti APBD. Saya katakan perubahan tidak akan terjadi secara signifikan, kecuali gimmick politik saja dan energi pencitraan baliho yang tak menarik bagi dunia digital. Para content creator ini mengajari kita semua yang sering panjang lebar bicara perubahan, tapi tidak melakukan hal sedikit dan konsisten. Lalu pertanyaannya, tertarikah para aktivis mengubah diri, dari budaya pengrajin proposal penjual kemiskinan, ke jalur media digital. Maukah anda para pendaku revolusioner progresif jadi youtuber?😀

Penulis : Dharma Setyawan (Pengerak Pasar Yosomulyo Pelangi)